Selama lebih dari empat tahun terakhir, bahan bakar alternatif ini telah diuji coba secara langsung di lapangan. Hasilnya sangat memuaskan dan dinilai sangat aman bagi mesin. Para nelayan telah menggunakannya untuk mesin perahu mereka, para petani memakainya pada alat pertanian, dan beberapa kendaraan diesel juga terbukti berjalan mulus tanpa kendala teknis.
Baca Juga :
Selain ramah lingkungan, metode membuat solar dari sampah ini juga menawarkan performa mesin yang lebih bertenaga. Hal ini terjadi karena Petasol memiliki nilai kalor yang lebih tinggi jika kita bandingkan dengan biosolar komersial di pasaran. Dengan demikian, pengguna tidak hanya menghemat biaya tetapi juga mendapatkan performa mesin yang optimal untuk aktivitas harian mereka.
Analisis Bisnis dan Potensi Ekonomi Sirkular
Dari sisi ekonomi, pengembangan teknologi ini membuka peluang usaha baru yang sangat menguntungkan bagi masyarakat. Biaya produksi Petasol tergolong sangat murah, yaitu berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 6.160 per liter. Angka ini dihitung dengan asumsi harga bahan baku plastik kering dari pengepul sebesar Rp 1.800 per kilogram.
Namun, biaya produksi ini masih bisa ditekan lebih rendah lagi jika pengelola bekerja sama dengan bank sampah setempat. Dengan membeli bahan baku langsung dari bank sampah seharga Rp 200 per kilogram, ongkos produksi turun drastis menjadi hanya Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per liter. Selisih harga ini tentu menawarkan margin keuntungan yang sangat tebal bagi para pelaku usaha mikro.
Baca Juga :
Karena regulasi perdagangan bahan bakar alternatif di pasar domestik belum sepenuhnya terbentuk, saat ini harga jual Petasol ditetapkan sebesar Rp 10.000 per liter. Dengan harga tersebut, produsen bisa meraup keuntungan bersih sekitar Rp 4.000 hingga Rp 5.000 untuk setiap liter yang terjual. Angka ini tentu sangat menarik bagi komunitas pengelola sampah mandiri di daerah.
Penerapan teknologi untuk membuat solar dari sampah ini telah meluas ke lebih dari 60 lokasi di seluruh Indonesia. Jika sebuah unit pengolahan memiliki kapasitas produksi 100 kilogram sampah per hari, mereka bisa menghasilkan laba bersih hingga Rp 8,6 juta per bulan. Dengan modal awal investasi mesin, titik impas atau break-even point (BEP) dapat tercapai dalam waktu sekitar 2,5 tahun saja.
Beberapa kota besar seperti Cimahi, Yogyakarta, dan Semarang telah sukses mereplikasi sistem ini dengan dukungan penuh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Keberhasilan program ini membuktikan bahwa sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat mampu menyelesaikan masalah lingkungan sekaligus memberikan dampak ekonomi nyata. Pengolahan sampah berbasis komunitas ini diharapkan terus berkembang secara mandiri di berbagai daerah lain.
Baca Juga :
Pada akhirnya, teknologi ini tidak hanya menawarkan solusi praktis atas darurat sampah plastik, tetapi juga menjadi alternatif energi yang murah bagi masyarakat kelas bawah. Pemerintah daerah dan komunitas diharapkan terus mendukung pengembangan teknologi membuat solar dari sampah demi mewujudkan kemandirian energi nasional. Langkah kecil ini jika dilakukan secara massal akan membawa dampak luar biasa bagi kelestarian bumi pertiwi.