Technonesia - Peneliti menemukan bukti baru mengenai potensi gempa besar Ciremai melalui analisis struktur tanah yang terbalik di kaki gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendeteksi adanya aktivitas tektonik kuno yang sangat kuat di wilayah Kuningan dan sekitarnya. Temuan ini menjadi peringatan penting bagi mitigasi bencana di kawasan padat penduduk Jawa Barat.
Gunung Ciremai yang menjulang setinggi 3.078 meter di atas permukaan laut merupakan gunung api aktif tertinggi di Jawa Barat yang dikelilingi pemukiman padat. Sejarah letusannya yang panjang menyimpan banyak misteri geologi yang belum terpecahkan sepenuhnya oleh para ahli. Melalui riset intensif yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu, para ilmuwan kini mulai menyingkap tabir bahaya tektonik yang tersembunyi di bawah kaki gunung tersebut.
Menguak potensi gempa besar Ciremai Lewat Teknologi LiDAR
Tim peneliti memanfaatkan teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging) untuk memetakan morfologi lahan di sekitar lereng gunung dengan akurasi tinggi. Melalui pemetaan ini, para ahli dapat mengidentifikasi potensi gempa besar Ciremai secara lebih presisi tanpa terkendala rimbunnya vegetasi hutan tropis. Sensor laser dari udara tersebut mampu menembus tajuk pohon dan menampilkan relief permukaan bumi yang sebenarnya.
Hasil pemetaan digital tersebut menunjukkan adanya deformasi permukaan bumi berupa kemiringan lapisan batuan (tilting) serta retakan akibat patahan (faulting). Fenomena geologi ini mengindikasikan bahwa wilayah Kuningan dan sekitarnya pernah mengalami guncangan dahsyat akibat pergeseran lempeng di masa lampau. Deformasi ini tersebar di beberapa titik kritis yang kini diidentifikasi sebagai jalur sesar aktif Kuningan yang patut diwaspadai.
Misteri Lapisan Tanah yang Terbalik
Salah satu temuan paling mengejutkan dari riset ini adalah anomali lapisan tanah di jalur Lingkar Timur Kuningan. Berdasarkan metode penanggalan karbon (carbon dating), tim peneliti menemukan endapan tanah berusia 22.000 tahun berada di atas lapisan tanah yang berumur 20.000 tahun. Pergeseran ekstrem ini menjadi indikator kuat bahwa potensi gempa besar Ciremai dipicu oleh pergerakan sesar aktif di masa lalu.
Secara teoretis, lapisan tanah yang lebih tua seharusnya berada di bawah lapisan yang lebih muda. Namun, tekanan tektonik yang luar biasa dari sesar naik (thrust fault) telah mendorong material tua naik ke permukaan. Proses geologi ini membuktikan adanya deformasi kerak bumi yang sangat masif di kawasan tersebut.
Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN, Sonny Aribowo, menjelaskan bahwa fenomena ini mencerminkan fase tektonik yang dinamis. Selain sesar naik, timnya juga mengidentifikasi jejak sesar normal pada endapan tanah yang berusia sekitar 16.000 tahun. Sesar normal ini terbentuk sebagai fase penyeimbangan setelah tanah mengalami tekanan tektonik yang sangat besar akibat gempa bumi purba.