Namun, tidak sedikit pula yang mengkhawatirkan dampak psikologis jangka panjang jika kebohongan ini akhirnya terbongkar. Menunda proses berduka yang alami dengan menggunakan teknologi AI dikhawatirkan dapat memicu trauma yang jauh lebih hebat di kemudian hari.
"Saya tidak sepenuhnya mendukung keputusan keluarga ini. Ibu tersebut telah dibohongi dalam waktu yang lama. Saya sangat khawatir ketika kebenaran akhirnya terungkap, dampaknya akan jauh lebih merusak bagi kesehatannya," tulis salah seorang pengguna media sosial lokal.
Bagaimanapun juga, perkembangan kecerdasan buatan kini telah menyentuh wilayah paling sensitif dalam kehidupan manusia, yaitu kematian dan rasa kehilangan. Meskipun teknologi kloning AI anak meninggal dapat memberikan ketenangan sementara bagi mereka yang ditinggalkan, batas antara terapi emosional dan penolakan terhadap realitas tetap menjadi garis tipis yang harus disikapi dengan bijak.