Technonesia - Akses internet di Iran kini memasuki babak baru setelah pemerintah menyetujui implementasi skema "Internet Pro" untuk mengatasi kelumpuhan komunikasi selama tiga bulan terakhir. Otoritas keamanan tertinggi di negara tersebut memberikan lampu hijau bagi para pelaku usaha untuk kembali terhubung dengan jaringan global, meski masih dalam pengawasan dan pembatasan tertentu. Langkah ini muncul sebagai respons atas desakan sektor ekonomi yang menderita kerugian besar akibat pemutusan koneksi total.
Juru bicara pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk menjaga denyut nadi perekonomian negara di tengah situasi krisis. "Dewan Keamanan Nasional Tertinggi telah menyetujui skema Internet Pro guna memastikan keberlangsungan bisnis tetap terjaga," ungkapnya dalam pernyataan resmi kepada media setempat. Mohajerani menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah menyelamatkan sektor-sektor produktif yang sangat bergantung pada konektivitas internasional.
Meskipun demikian, pemerintah menggarisbawahi bahwa skema ini bersifat temporer. Otoritas akan terus memantau situasi keamanan nasional sebelum memutuskan untuk mengembalikan layanan secara penuh. "Begitu kondisi dinyatakan normal oleh pihak berwenang, status konektivitas akan disesuaikan kembali," tambah Mohajerani. Ia juga mengeklaim bahwa pemerintah tetap memandang hak warga sipil untuk mendapatkan informasi sebagai poin yang penting, terlepas dari situasi darurat yang terjadi.
Baca Juga :
Dampak Ekonomi Akibat Pembatasan Akses Internet di Iran
Krisis komunikasi ini bermula pada awal Januari lalu, dipicu oleh gelombang protes nasional yang meluas. Situasi semakin memburuk ketika akses internet di Iran kembali diputus total pada akhir Februari, menyusul eskalasi ketegangan militer akibat serangan dari Amerika Serikat dan Israel. Pemutusan hubungan ini membuat jutaan warga terisolasi dari dunia luar selama lebih dari 60 hari berturut-turut.
Lembaga pemantau konektivitas global, NetBlocks, melaporkan bahwa mayoritas penduduk Iran kehilangan kemampuan untuk mengakses platform global secara normal. Hanya segelintir orang yang mampu menembus sensor ketat dengan menggunakan layanan VPN (Virtual Private Network) yang harganya melonjak drastis di pasar gelap. Kondisi ini menciptakan kesenjangan digital yang tajam di tengah masyarakat yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi dan konflik.
Secara finansial, dampak dari kebijakan ini sangat merusak. Afshin Kolahi dari Kamar Dagang Iran mengungkapkan bahwa gangguan komunikasi menyebabkan kerugian ekonomi langsung antara US$30 juta hingga US$40 juta per hari. Jika memperhitungkan dampak tidak langsung pada rantai pasok dan kepercayaan investor, angka kerugian tersebut bisa membengkak hingga US$80 juta setiap harinya. Sektor ekonomi digital Iran yang sebelumnya sedang berkembang kini berada di ambang kehancuran.
Baca Juga :
Nasib Freelancer dan Usaha Kecil di Tengah Krisis
Kelompok yang paling merasakan hantaman keras adalah para pekerja lepas (freelancer) dan pemilik usaha kecil. Tanpa akses internet di Iran yang stabil, mereka kehilangan kontrak kerja internasional dan akses ke pasar digital. Banyak dari mereka yang terpaksa berhenti bekerja total sejak konflik bersenjata pecah, menambah angka pengangguran secara signifikan di kota-kota besar seperti Teheran dan Isfahan.