Technonesia - Potensi mineral laut dalam di wilayah perairan Indonesia kini menjadi sorotan utama pemerintah dan para peneliti di tengah menipisnya cadangan tambang di daratan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi bahwa kekayaan yang tersimpan di dasar samudra Nusantara bukan sekadar impian, melainkan aset strategis untuk mendukung transisi energi global. Kebutuhan dunia akan mineral kritis untuk teknologi hijau memaksa manusia melirik ke kedalaman ribuan meter di bawah permukaan laut.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Noor Cahyo Dwi Aryanto, memberikan pandangan mendalam mengenai pergeseran paradigma industri tambang ini. Menurutnya, era energi fosil sudah mendekati titik jenuh. Saat ini, peradaban sedang bergerak cepat menuju penggunaan energi alternatif yang sangat bergantung pada ketersediaan mineral spesifik. Hal ini menjadikan eksplorasi laut dalam sebagai prioritas baru bagi banyak negara maju, termasuk Indonesia yang memiliki wilayah perairan sangat luas.
Cahyo menjelaskan bahwa setidaknya terdapat tiga jenis deposit utama yang menjadi incaran para pemain industri global. Pertama adalah nodul polimetalik yang menyerupai bongkahan kecil kaya mineral di dasar laut. Kedua, sulfida masif dasar laut yang terbentuk dari aktivitas vulkanik bawah air. Ketiga, kerak feromangan yang kaya akan kobalt. Ketiga jenis harta karun ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi karena kandungan logamnya yang murni dan melimpah.
Baca Juga :
Pemerintah Indonesia melalui para penelitinya terus berupaya mengoptimalkan potensi mineral laut dalam yang tersimpan di sejumlah titik strategis. Beberapa lokasi yang sudah menunjukkan indikasi kuat keberadaan mineral berharga ini antara lain kawasan Kawio Barat di perairan Sangihe serta Komba Ridge di Flores. Selain itu, perairan Jailolo di Halmahera Barat dan Cekungan belakang Busur Banda juga masuk dalam radar eksplorasi intensif karena karakteristik geologinya yang unik.
Membedah Lokasi Strategis Potensi Mineral Laut Dalam
Penemuan menarik muncul dari hasil observasi di kawasan Komba dan Laut Banda. Tim peneliti menemukan sebuah fenomena alam yang tidak lazim, yakni anomali suhu air laut yang justru meningkat seiring dengan bertambahnya kedalaman. Secara teori, suhu air laut seharusnya mendingin saat menjauh dari permukaan. Namun, kenaikan suhu ini mengindikasikan adanya sistem hidrotermal aktif di dasar laut yang bekerja layaknya "cerobong asap" raksasa.
Sistem hidrotermal ini membawa material dari dalam perut bumi menuju dasar laut. Material yang dibawa bukanlah sembarang lumpur, melainkan kandungan logam bernilai tinggi seperti tembaga, seng, perak, hingga emas. Komoditas-komoditas inilah yang nantinya akan menjadi bahan baku utama dalam pembuatan infrastruktur energi bersih, seperti kabel transmisi efisiensi tinggi dan komponen pembangkit listrik tenaga surya maupun angin.
Baca Juga :
Selain logam dasar, potensi mineral laut dalam Indonesia juga mencakup mineral langka yang krusial bagi industri baterai kendaraan listrik (EV). Kobalt dan nikel yang ditemukan dalam kerak feromangan menjadi incaran produsen otomotif dunia. Dengan menguasai rantai pasok dari dasar laut, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam ekosistem kendaraan listrik global di masa mendatang.