Technonesia - Larangan perangkat teknologi China kini memasuki babak baru yang jauh lebih agresif di bawah pengawasan ketat Komisi Komunikasi Federal (FCC) Amerika Serikat. Kebijakan ini tidak lagi sekadar membatasi persetujuan model produk baru, melainkan mulai menyasar perangkat yang sudah beredar dan digunakan di pasar domestik. Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam perang dingin teknologi antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia yang tampaknya tidak memberikan ruang kompromi bagi perusahaan asal Negeri Tirai Bambu.
Pemerintah Amerika Serikat melalui FCC dilaporkan tengah mencari masukan publik mengenai proposal larangan impor berkelanjutan. Kebijakan ini menargetkan peralatan dari perusahaan-perusahaan China yang sudah masuk dalam "Daftar Tercakup" (Covered List), meskipun perangkat tersebut telah mendapatkan izin jual sebelum perintah tahun 2022 berlaku. Badan regulasi tersebut menyimpulkan secara sementara bahwa memutus rantai pemasaran peralatan yang sudah ada sangat krusial demi melindungi sektor komunikasi nasional dari risiko spionase dan gangguan keamanan.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kebijakan proteksionisme teknologi yang sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Pada tahun 2021, FCC secara resmi memasukkan raksasa teknologi seperti Huawei, ZTE, Hytera, Hikvision, dan Dahua ke dalam daftar hitam. Perusahaan-perusahaan ini dianggap menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima terhadap keamanan nasional Amerika Serikat, sehingga akses mereka terhadap pasar infrastruktur vital AS terus dipersempit hingga ke titik terendah.
Baca Juga :
Mengapa Larangan Perangkat Teknologi China Semakin Agresif?
Keputusan FCC untuk memperluas cakupan larangan perangkat teknologi China didasari oleh kekhawatiran mendalam terhadap integritas data warga Amerika. Otoritas keamanan AS berpendapat bahwa perangkat buatan perusahaan China berpotensi memiliki pintu belakang (backdoor) yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah asing untuk memantau lalu lintas data atau melumpuhkan jaringan komunikasi di saat krisis. Oleh karena itu, membiarkan perangkat lama tetap beroperasi dianggap sebagai celah keamanan yang berbahaya.
FCC menegaskan bahwa tindakan ini diperlukan untuk mengurangi risiko terhadap sektor komunikasi AS secara menyeluruh. Meskipun demikian, badan tersebut memberikan sedikit kelonggaran bagi konsumen individu. Warga Amerika masih diperbolehkan menggunakan peralatan yang sudah telanjur mereka beli dan gunakan saat ini. Fokus utama dari aturan baru ini adalah menghentikan impor baru dan mencegah stok perangkat yang ada di gudang-gudang distributor untuk dipasarkan kembali secara bebas.
Selain peralatan telekomunikasi konvensional, regulasi ini juga mulai merambah ke sektor-sektor yang lebih spesifik. Pada Desember 2025, FCC telah melarang impor semua model drone baru buatan China karena kekhawatiran akan pengambilan citra udara dan data lokasi sensitif. Tren ini menunjukkan bahwa larangan perangkat teknologi China tidak lagi hanya soal ponsel atau menara seluler, melainkan sudah mencakup segala hal yang terhubung ke jaringan internet dan memiliki sensor pemantau.