Peneliti menyarankan agar strategi penanaman bergeser dari fokus pada kuantitas pohon ke fokus pada kualitas dan ketahanan ekosistem. Ini berarti menanam kombinasi rumput, semak, dan pohon asli yang mampu beradaptasi dengan kondisi air yang langka.
Baca Juga :
Perbandingan Global: Proyek Tembok Hijau China vs. Tembok Hijau Afrika
Untuk memahami mengapa Proyek Tembok Hijau China menuai kritik, ada baiknya melihat inisiatif serupa di Afrika, yang dikenal sebagai Great Green Wall of Africa.
Meskipun tujuannya sama—melawan perluasan Gurun Sahara—pendekatan Afrika jauh berbeda. Proyek di Afrika berfokus pada pendekatan terpadu (integrated approach) yang meliputi:
- Pengelolaan Lahan Berkelanjutan (SLM): Menggunakan teknik pertanian yang mempertahankan kelembaban tanah.
- Restorasi Tanah: Fokus pada spesies tanaman lokal dan semak-semak yang secara alami berada di wilayah Sahel.
- Keterlibatan Komunitas: Memberikan insentif kepada petani lokal untuk mengelola lahan mereka sendiri, alih-alih proyek rekayasa dari pemerintah pusat.
Kontrasnya, model China bersifat top-down (dari atas ke bawah), fokus pada rekayasa cepat, dan sering kali mengabaikan dinamika ekologi lokal demi mencapai target penanaman yang tinggi.
Baca Juga :
Masa Depan dan Adaptasi Strategi Penghijauan
Menyadari adanya kegagalan pada tahap awal, Pemerintah China mulai menunjukkan indikasi adanya penyesuaian strategi. Presiden Xi Jinping telah menekankan pentingnya penghijauan berbasis sains, yang berarti fokus harus beralih dari kecepatan ke kelangsungan hidup pohon.
Para ahli berharap China akan memprioritaskan spesies pohon yang lebih tahan kekeringan dan mengadopsi model agroforestri campuran, yang menggabungkan berbagai spesies untuk meningkatkan ketahanan terhadap hama dan perubahan iklim.
Keberhasilan jangka panjang Kontroversi Pohon Xi Jinping ini akan sangat bergantung pada kemauan China untuk mengintegrasikan masukan dari ilmuwan ekologi independen, bukan hanya insinyur kehutanan yang fokus pada target jumlah.
Baca Juga :
7 Fakta Penting Proyek Tembok Hijau Raksasa
Berikut adalah tujuh fakta kunci yang perlu Anda ketahui mengenai Proyek Tembok Hijau China (Great Green Wall):
- Nama Resmi: Three-North Shelter Forest Program (TNSFP).
- Durasi Proyek: Dimulai tahun 1978 dan ditargetkan selesai pada tahun 2050, menjadikannya proyek lingkungan berskala abad.
- Total Pohon Ditanam (Hingga Saat Ini): Lebih dari 66 miliar pohon.
- Tujuan Utama: Menahan Gurun Gobi dan mengurangi badai pasir yang mencapai Beijing.
- Spesies Kontroversial: Pohon Poplar dan Willow yang haus air, ditanam sebagai monokultur.
- Panjang Target: Sabuk hijau yang membentang lebih dari 4.500 kilometer.
- Kritik Ekologi: Menguras air tanah secara berlebihan dan menciptakan ekosistem artifisial yang rentan penyakit, dikenal sebagai "Green Desert".
Kesimpulan
Proyek Tembok Hijau China adalah simbol komitmen raksasa China untuk mengatasi masalah lingkungan yang disebabkan oleh perubahan iklim dan degradasi lahan. Ini menunjukkan bagaimana rekayasa ekologi dapat dilakukan pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.