Beberapa ahli menyarankan bahwa pendekatan yang lebih efektif seharusnya adalah restorasi ekosistem alami. Ini berarti melindungi dan mempromosikan pertumbuhan spesies asli yang berakar dangkal (seperti semak dan rumput xerofitik), yang jauh lebih hemat air dan secara historis telah berhasil menahan pergerakan pasir.
Baca Juga :
Masa Depan Tembok Hijau: Antara Ambisi dan Realitas Ekologis
Proyek Tembok Hijau China adalah studi kasus penting tentang bagaimana ambisi politik dan teknik rekayasa berskala besar berhadapan dengan kompleksitas ekologi alam. Upaya untuk menanam puluhan miliar pohon menunjukkan komitmen China yang luar biasa terhadap isu lingkungan.
Namun, tantangan yang dihadapi China saat ini adalah menyeimbangkan angka fantastis tersebut dengan prinsip keberlanjutan. Kegagalan untuk beralih dari hutan monokultur yang haus air ke restorasi ekosistem yang beragam dan adaptif berpotensi mengubah proyek perlindungan ini menjadi bencana lingkungan yang mahal.
Untuk memastikan bahwa "tembok hijau" ini benar-benar menjadi penghalang yang efektif bagi Gurun Gobi, para pembuat kebijakan harus mulai mendengarkan protes ilmiah. Implementasi di masa depan harus fokus pada spesies lokal, efisiensi air, dan keragaman hayati. Sebab, hanya ekosistem yang seimbanglah yang mampu bertahan menghadapi tekanan iklim dalam jangka waktu panjang.