Mengapa Ilmuwan Protes? 3 Masalah Besar Ekologis
Meskipun menanam pohon adalah tindakan yang dianggap "hijau", implementasi Proyek Tembok Hijau China ternyata jauh dari sempurna. Para ilmuwan menyoroti tiga permasalahan ekologis mendasar yang membuat proyek ini berisiko gagal atau bahkan memperburuk kondisi lingkungan jangka panjang.
Baca Juga :
1. Pemilihan Pohon yang Salah (Monokultur)
Salah satu kritik terbesar adalah fokus pada kuantitas daripada kualitas atau keragaman. Untuk mencapai target penanaman yang besar, pemerintah seringkali memilih jenis pohon yang tumbuh cepat dan mudah dibudidayakan, seperti poplar atau jenis Eucalyptus tertentu.
Masalahnya, wilayah utara China yang gersang memiliki ekosistem alami yang unik, didominasi oleh semak belukar, rumput, dan spesies pohon yang mampu bertahan di kondisi minim air. Dengan menanam spesies non-pribumi (non-endemik) dalam jumlah besar, China menciptakan apa yang disebut sebagai hutan monokultur.
- Pohon non-endemik seringkali memiliki tingkat ketahanan hidup yang rendah dalam jangka panjang di lingkungan yang keras.
- Hutan monokultur sangat rentan terhadap penyakit dan serangan hama, yang dapat menyebar dengan cepat dan memusnahkan seluruh area penanaman.
- Kurangnya keanekaragaman hayati membuat ekosistem buatan ini tidak sekuat dan setahan lama ekosistem alami.
Ilmuwan memperkirakan bahwa tingkat kematian pohon yang ditanam dalam proyek ini sangat tinggi, berkisar antara 40% hingga 70% di beberapa lokasi, menjadikannya pemborosan sumber daya dan tenaga.
Baca Juga :
2. Krisis Air di Wilayah Kering
Ironisnya, upaya menanam miliaran pohon di wilayah kering dapat mempercepat krisis sumber daya air. Pohon, terutama spesies yang dipilih untuk pertumbuhan cepat, membutuhkan air dalam jumlah besar untuk bertahan hidup dan tumbuh subur.
Gurun Gobi dan sekitarnya adalah wilayah yang secara alami menerima curah hujan sangat rendah. Ketika miliaran pohon baru ditanam, mereka bersaing secara agresif dengan vegetasi asli yang sudah beradaptasi, serta dengan kebutuhan air masyarakat lokal.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa di daerah tertentu, penanaman pohon-pohon haus air ini justru menyebabkan permukaan air tanah (akuifer) menurun drastis. Hal ini membuat wilayah yang seharusnya dilindungi menjadi lebih kering dan lebih rentan terhadap desertifikasi di kemudian hari. Dengan kata lain, solusi yang diterapkan justru mengkonsumsi sumber daya yang paling langka di sana.
Baca Juga :
3. Keberhasilan yang Semu dan Pelaporan yang Buruk
Para ilmuwan juga mengkritik cara pemerintah mengukur keberhasilan proyek ini. Fokus utama adalah pada metrik seperti "persentase area yang telah ditanami" atau "jumlah pohon yang ditanam," bukan pada keberhasilan pohon tersebut bertahan hidup setelah 10 atau 20 tahun.
Ada kekhawatiran bahwa data yang disajikan oleh otoritas lokal seringkali dilebih-lebihkan untuk memenuhi target Beijing. Karena tekanan untuk mencapai target penanaman 66 Miliar Pohon China, insentif finansial seringkali diberikan untuk kegiatan penanaman, bukan untuk kegiatan pemeliharaan jangka panjang.