Namun, setelah menganalisis lebih banyak data dan model orbit, Gray menarik kembali klaimnya. Ia menemukan bahwa orbit puing tersebut tidak konsisten dengan profil penerbangan Falcon 9.
Kuncinya ada pada waktu dan lokasi peluncuran. Roket Long March 3C yang meluncur pada tahun 2014 memiliki jalur yang memungkinkan tahap pendorongnya terdampar di orbit Bulan selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya jatuh.
Konfirmasi bahwa roket itu adalah milik Tiongkok diperkuat oleh data observasi yang konsisten dengan roket yang membawa misi Chang'e-5 T1. Meskipun Beijing sempat membantah bahwa roket itu adalah milik mereka, bukti ilmiah dari studi orbit dan analisis kawah semakin kuat.
Baca Juga :
Pentingnya Investigasi Dampak Roket China Bagi Masa Depan Eksplorasi
Penemuan lubang kawah bulan akibat roket China ini membawa perhatian baru pada isu puing-puing luar angkasa. Saat ini, orbit Bumi dipenuhi oleh ribuan ton sampah antariksa. Walaupun Bulan jauh, kasus ini menunjukkan bahwa benda buatan manusia berpotensi menabrak benda langit terdekat kita.
Para ilmuwan berharap peristiwa ini dapat menjadi katalisator bagi komunitas global untuk meningkatkan protokol pelacakan. Objek yang lebih kecil dan tidak berfungsi sering kali diabaikan karena fokus utama ada pada satelit aktif dan benda-benda berukuran besar.
Ke depannya, sangat penting untuk memiliki sistem pelacakan yang akurat, terutama karena semakin banyak negara dan perusahaan swasta berlomba-lomba meluncurkan misi ke Bulan dan Mars.
Baca Juga :
Kawah ganda misterius ini mungkin terlihat seperti luka kecil di permukaan Bulan. Namun, bagi komunitas ilmiah, ini adalah bukti nyata sekaligus pengingat bahwa jejak kegiatan manusia kini telah mencapai benda langit di luar Bumi. Langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa eksplorasi kita dilakukan dengan tanggung jawab penuh, meminimalkan risiko pencemaran ruang angkasa di masa depan.