Industri dalam negeri sulit bersaing dengan harga yang ditawarkan oleh produk impor tersebut. Padahal, dari sisi kualitas dan spesifikasi, produk rakitan Indonesia tidak kalah saing. Namun, bagi konsumen di segmen niaga yang sangat sensitif terhadap biaya operasional dan harga beli, selisih harga sedikit saja akan sangat menentukan keputusan pembelian mereka. Inilah yang menyebabkan truk-truk impor lebih mudah merangsek masuk ke berbagai sektor industri di Indonesia.
Penurunan utilisasi ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ketika pabrik tidak beroperasi secara maksimal, biaya tetap (fixed cost) per unit kendaraan yang diproduksi secara lokal justru akan meningkat. Hal ini menciptakan lingkaran setan: produksi lokal menjadi lebih mahal, sehingga konsumen beralih ke produk impor, yang kemudian membuat produksi lokal semakin tertekan dan tidak efisien.
Ancaman terhadap Ekosistem Pendukung dan Rantai Pasok
Dampak dari impor truk CBU tekan industri otomotif tidak berhenti pada level agen pemegang merek (APM) atau pabrikan besar saja. Kukuh Kumara menyoroti bahwa seluruh rantai pasok otomotif ikut merasakan getah dari kebijakan impor ini. Mulai dari pemasok komponen lokal (Tier 1 hingga Tier 3), industri karoseri, hingga bengkel-bengkel spesialis kendaraan niaga mengalami penurunan permintaan jasa dan barang.
- Pemasok Komponen Lokal: Kehilangan pesanan karena jumlah unit yang dirakit di dalam negeri berkurang drastis.
- Industri Karoseri: Beberapa truk CBU masuk sudah dalam bentuk lengkap dengan bak atau boks, sehingga mematikan usaha karoseri lokal.
- Sektor Purnajual: Ketergantungan pada suku cadang impor untuk kendaraan CBU seringkali menyulitkan konsumen dalam jangka panjang, namun di sisi lain mengurangi penyerapan komponen buatan lokal.
- Tenaga Kerja: Rendahnya utilisasi pabrik berpotensi memicu efisiensi tenaga kerja atau pengurangan jam kerja bagi buruh pabrik otomotif.
Selain masalah impor, penurunan daya beli masyarakat dalam beberapa tahun terakhir turut memperkeruh suasana. Sektor logistik dan pertambangan yang menjadi konsumen utama truk niaga sedang mengalami penyesuaian efisiensi. Gabungan antara daya beli yang lesu dan serbuan produk impor membuat pasar otomotif nasional kehilangan taringnya di kawasan regional.
Indonesia Kehilangan Posisi Pemimpin di ASEAN
Data menunjukkan penurunan yang cukup tajam pada angka penjualan kendaraan secara grosir (wholesales). Jika sebelumnya Indonesia konsisten mencatatkan angka 1,2 juta hingga 1,3 juta unit per tahun, pada tahun 2025 angka tersebut merosot hingga ke level 803 ribu unit. Penurunan ini membawa dampak psikologis dan ekonomi yang besar bagi posisi Indonesia di mata dunia internasional.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, posisi Indonesia sebagai pasar otomotif terbesar di ASEAN digeser oleh Malaysia. Penurunan penjualan yang berkelanjutan selama beberapa tahun terakhir membuat volume pasar kita mengecil di bawah tetangga serumpun tersebut. Fenomena impor truk CBU tekan industri otomotif dianggap sebagai salah satu faktor kunci yang mempercepat pergeseran takhta ini.