Technonesia - Impor truk CBU tekan industri otomotif nasional hingga ke titik yang sangat mengkhawatirkan bagi para pelaku manufaktur dalam negeri. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) secara terbuka menyatakan bahwa masuknya kendaraan niaga secara utuh atau Completely Built Up (CBU) memberikan tekanan hebat bagi ekosistem kendaraan komersial di tanah air. Fenomena ini tidak hanya mengancam angka penjualan, tetapi juga merusak struktur produksi yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Asosiasi industri tersebut menilai kehadiran kendaraan niaga impor ini menciptakan peta persaingan yang tidak seimbang di pasar domestik. Hal ini berdampak langsung pada rendahnya tingkat utilisasi pabrik-pabrik otomotif di Indonesia. Padahal, kapasitas produksi industri otomotif nasional saat ini sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan pasar dalam negeri tanpa harus bergantung pada pasokan luar negeri.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menegaskan bahwa secara fundamental, Indonesia sudah mencapai tahap swasembada dalam produksi kendaraan bermotor. Industri lokal memiliki kemampuan mumpuni untuk merakit dan memproduksi berbagai jenis kendaraan dengan standar kualitas global. Namun, keberadaan impor truk CBU tekan industri otomotif lokal karena membanjiri pasar dengan produk yang seringkali memiliki keunggulan harga dari sisi skala ekonomi negara asal.
Mengapa Impor Truk CBU Tekan Industri Otomotif Indonesia?
Kukuh menjelaskan kondisi ini dalam ajang GAIKINDO Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GICOMVEC) 2026. Menurutnya, gangguan utama pada industri kendaraan komersial berasal dari arus importasi yang tidak terbendung. Saat ini, kapasitas produksi industri otomotif Indonesia mencapai angka fantastis, yakni sekitar 2,59 juta unit per tahun. Namun, realitas di lapangan menunjukkan angka produksi yang masih tertahan di kisaran 1,3 juta hingga 1,4 juta unit saja.
Kondisi di mana impor truk CBU tekan industri otomotif ini memicu ketimpangan yang lebar antara kapasitas terpasang dengan hasil produksi nyata. Penjualan domestik yang hanya berada di angka 1,2 juta unit per tahun menunjukkan adanya ruang kosong yang besar di pabrik-pabrik lokal. Jika ruang ini diisi oleh produk impor, maka investasi besar yang telah ditanamkan oleh para produsen di Indonesia menjadi tidak optimal dan cenderung merugi.
Lebih memprihatinkan lagi, tingkat utilisasi fasilitas produksi khusus untuk segmen kendaraan komersial berada jauh di bawah rata-rata nasional. Kukuh mengungkapkan bahwa beberapa produsen hanya mampu memanfaatkan kapasitas produksinya sekitar 40 persen hingga 50 persen saja. Rendahnya pemanfaatan pabrik ini adalah sinyal bahaya bagi keberlangsungan industri manufaktur jangka panjang.
Dampak Harga Kompetitif dari Skala Produksi Global
Salah satu alasan utama mengapa impor truk CBU tekan industri otomotif adalah faktor harga. Kendaraan yang didatangkan secara utuh dari negara seperti China atau Jepang seringkali memiliki harga yang sangat kompetitif. Hal ini terjadi karena negara-negara tersebut memproduksi kendaraan dalam skala yang jauh lebih masif untuk pasar global, sehingga biaya produksi per unitnya menjadi jauh lebih murah dibandingkan produksi lokal yang skalanya masih terbatas.