APIC salurkan bantuan kemanusiaan Aceh Tamiang Nataru, menunjukkan empati tinggi. Asosiasi Pilot Citilink (APIC) membuktikan komitmen sosialnya. Mereka mengirimkan bantuan ke korban bencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Aksi ini dilakukan melalui program APIC Peduli Sumatra. Ini terjadi meskipun jadwal penerbangan sedang sangat padat. Momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) selalu menjadi puncak operasional.

Kepedulian ini muncul merespons bencana banjir bandang dan tanah longsor. Bencana tersebut melanda wilayah Sumatra Utara, Sumatra Barat, hingga Aceh. Para pilot memanfaatkan waktu luang mereka. Mereka memastikan bantuan mendesak sampai kepada yang membutuhkan. Aksi ini menunjukkan bahwa tanggung jawab pilot melampaui kokpit pesawat.

Solidaritas Pilot Citilink di Tengah Jadwal Terbang Padat

Badan pengurus APIC, Diaz Andhora Nasution, memimpin langsung penyaluran ini. Menurut Diaz, keterlibatannya adalah panggilan hati. Dia merasa harus hadir langsung di lokasi bencana. Bahkan, jadwal terbangnya sangat ketat. Penerbangan Diaz hanya berselang sehari dari jadwal pengantaran donasi. Oleh karena itu, dia menawarkan diri untuk ikut serta. Ini adalah kesempatan besar untuk membantu masyarakat secara langsung. Perjalanan logistik dilakukan melalui jalur darat. Bantuan disalurkan menuju Posko LAZNAS Al Irsyad. Posko tersebut berada di Desa Matang Teupah, Kecamatan Bendahara.

Diaz menekankan bahwa ini bukan sekadar tugas. Ini adalah bentuk solidaritas pilot Citilink di tengah jadwal padat. Dia juga menceritakan pengalaman berkesan selama perjalanan. Banyak masyarakat sipil sukarela ikut membantu. Mereka melakukannya tanpa mengharapkan imbalan. Sebagai contoh, ada warga yang meminjamkan kendaraan pribadi. Mobil itu digunakan mengangkut bantuan dari Medan ke Aceh Tamiang.

Asosiasi Pilot Citilink Kirim Donasi Banjir Aceh Tamiang Lewat Jalur Darat

Faris Herdi Prayitno, pengurus APIC lainnya, juga angkat bicara. Faris menekankan bahwa kegiatan ini adalah kesadaran kolektif. Seluruh anggota asosiasi ikut berpartisipasi aktif. Tanggung jawab sosial tidak boleh dikesampingkan. Hal ini penting meskipun operasional penerbangan sedang tinggi. Dengan demikian, mereka berdonasi sambil tetap bekerja. Para pilot memanfaatkan waktu libur senggang. Ini dilakukan agar tidak mengganggu operasional Citilink. Mereka juga tetap menjalankan tanggung jawab utama sebagai pilot.

Aksi ini membuktikan bahwa manajemen waktu pilot sangat efisien. Mereka mampu menyeimbangkan tugas profesional dan kemanusiaan. Asosiasi Pilot Citilink kirim donasi banjir Aceh Tamiang dengan perencanaan matang. Pengiriman via jalur darat dipilih karena aksesibilitas. Ini memastikan bantuan sampai tepat waktu ke lokasi bencana.

Fokus Bantuan: 110 Unit Water Filter dan Tanggung Jawab Sosial Pilot Nataru

Bantuan yang disalurkan APIC sangat mendesak. Bantuan itu meliputi obat-obatan, pakaian, dan popok bayi. Ada juga makanan, perlengkapan ibadah, buku, dan mainan anak. Namun, fokus utama mereka adalah masalah air bersih. APIC secara khusus membawa 110 unit water filter. Perangkat ini menjadi solusi cepat bagi warga terdampak. Akses air bersih memang sangat sulit pasca bencana.

Mereka telah berkonsultasi dengan relawan setempat. Kesulitan air bersih menjadi masalah paling krusial. Water filter diharapkan menjadi solusi sementara yang efektif. Perangkat ini bisa menyediakan air minum layak konsumsi. Faris mengaku terenyuh melihat semangat relawan muda. Mereka adalah korban bencana, tetapi tetap aktif membantu. Mereka bahu-membahu untuk bangkit dari penderitaan. Aksi tanggung jawab sosial pilot Nataru ini membuktikan komitmen kemanusiaan yang nyata. Pilot tidak hanya fokus pada kokpit pesawat. Mereka juga peduli pada kondisi masyarakat di darat.

Memastikan Bantuan Tepat Sasaran dan Berkelanjutan

Keputusan menyalurkan 110 unit water filter adalah langkah strategis. Ini menunjukkan APIC tidak hanya memberi bantuan instan. Mereka juga memikirkan kebutuhan jangka pendek yang kritis. Air bersih adalah kunci pencegahan penyakit. Selain itu, kolaborasi dengan LAZNAS Al Irsyad memastikan distribusi yang efisien. Program APIC Peduli Sumatra menjadi model bagi komunitas profesional lainnya. Mereka menunjukkan bahwa kesibukan kerja bukanlah penghalang untuk berempati.