Tragis! Dampak Banjir Banjar Penghujung Tahun 2025: 18 Ribu Jiwa Menderita
Dampak banjir Banjar penghujung tahun 2025 sungguh memilukan. Bencana alam ini telah merenggut ketenangan belasan ribu jiwa. Curah hujan ekstrem di penghujung tahun memicu luapan air yang masif. Akibatnya, 14 kecamatan di Kabupaten Banjar terendam parah.
Pemerintah daerah kini bekerja keras menangani krisis. Prioritas utama adalah keselamatan warga dan penyaluran bantuan mendesak. Data terbaru menunjukkan skala bencana yang memerlukan perhatian nasional.
Skala Bencana Meluas: 18 Ribu Jiwa Terdampak Banjir Banjar
Hingga Minggu (28/12/2025), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat merilis data mengejutkan. Sebanyak 18.348 jiwa dari 6.593 Kepala Keluarga (KK) dilaporkan terdampak langsung. Situasi darurat ini terjadi di 89 desa yang tersebar luas.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Yayan Daryanto, mengonfirmasi data tersebut. “Hingga pukul 09.50 Wita, petugas telah menghimpun data ini,” jelas Yayan. Petugas terus memantau wilayah yang mengalami genangan tinggi. Mereka juga fokus pada evakuasi kelompok rentan yang terjebak.
Data Pengungsi dan Kelompok Rentan Jadi Prioritas Utama
Musibah ini memaksa ratusan warga meninggalkan rumah. Sedikitnya 302 warga harus mencari perlindungan di titik-titik pengungsian. Mereka berasal dari 113 KK yang rumahnya tidak lagi aman.
Fokus utama penanganan saat ini adalah kesehatan dan logistik. Data pengungsi banjir Banjar mencakup 45 balita, 35 lansia, dan 119 orang dewasa. Selain itu, BPBD mencatat ratusan jiwa memerlukan perhatian khusus. Mereka adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak kesehatan pasca-banjir.
Berikut rincian kelompok rentan yang harus segera diselamatkan:
- Lansia: 505 jiwa
- Anak-anak & Balita: 678 jiwa (310 balita dan 368 anak-anak)
- Bayi: 166 jiwa
- Ibu Hamil: 113 jiwa
- Disabilitas: 37 jiwa
Ribuan Rumah Terendam Air, Korban Banjir Banjar 14 Kecamatan Hadapi Kerugian Besar
Kerugian material akibat bencana ini sangat signifikan. Data BPBD mencatat 5.206 unit rumah warga terdampak. Bahkan, 1.714 unit di antaranya hingga kini masih terendam air. Ini menunjukkan betapa parahnya korban banjir Banjar 14 kecamatan mengalami kerusakan properti.
Genangan air yang berkepanjangan menimbulkan ancaman baru. Infrastruktur sanitasi dan air bersih rusak total. Oleh karena itu, potensi penyakit menular seperti diare dan leptospirosis meningkat drastis. Pemerintah harus segera menyediakan fasilitas kesehatan darurat. Upaya pemulihan pasca-banjir diprediksi akan memakan waktu lama. Apalagi, banyak warga kehilangan harta benda dan akses mata pencaharian.
Respon Cepat dan Upaya Mitigasi Darurat
Personel gabungan kini siaga penuh di lokasi bencana. Pemerintah daerah, TNI, dan Polri terus bergerak cepat. Mereka memastikan keselamatan warga dan menyalurkan bantuan logistik penting. Petugas Pusdalops, Satgas, dan TRC bekerja tanpa henti.
“Hingga saat ini, personel rutin melakukan pengecekan dan pendataan,” tegas Yayan. Mereka juga terus memonitor kecamatan yang terdampak banjir. Update BPBD Banjar terkini menunjukkan koordinasi antarlembaga berjalan baik. Bantuan berupa makanan siap saji, selimut, dan obat-obatan telah didistribusikan. Namun, tantangan logistik di daerah terpencil masih menjadi hambatan utama.
Waspada! Sebaran Banjir di 14 Kecamatan Masih Mengkhawatirkan
Berdasarkan laporan terakhir, 14 kecamatan masih berjuang melawan genangan air. Meskipun di beberapa titik air mulai surut, ancaman hujan susulan tetap ada. Warga di wilayah dataran rendah diimbau untuk selalu waspada.
Martapura Timur dan Martapura Barat menjadi wilayah paling parah. Desa Pekauman, Melayu, hingga Teluk Selong terendam cukup tinggi. Kecamatan lain yang terdampak meliputi:
- Martapura Kota (Bincau, Tunggul Irang, Jawa Laut, Sungai Sipai)
- Karang Intan (Awang Bangkal, Mandi Angin, Kiram)
- Astambul & Pengaron (Jati, Munggu Raya, Lobang Baru, Mangkauk)
- Kecamatan Lainnya (Kertak Hanyar, Sungai Tabuk, Sungai Pinang, Aranio, Mataraman, dan Cintapuri Darussalam)
BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak kembali ke rumah sebelum kondisi benar-benar aman. Mereka juga meminta warga segera melaporkan jika menemukan kesulitan evakuasi. Dengan demikian, penanganan bencana bisa dilakukan secara lebih efektif dan terstruktur.
Tinggalkan Balasan