Coinbase mengungkapkan bahwa mereka berhasil membekukan aset kripto senilai lebih dari 3 juta dolar AS yang diduga terkait dengan jaringan kriminal online scams tersebut.
Langkah ini cukup penting karena saat ini banyak scammer mulai memanfaatkan cryptocurrency untuk memindahkan dana secara cepat dan sulit dilacak.
Namun di sisi lain, teknologi blockchain justru membantu aparat dan perusahaan teknologi menelusuri aliran transaksi secara transparan.
Karena setiap transaksi meninggalkan jejak digital permanen, para pelaku akhirnya lebih mudah dilacak dibanding sistem keuangan konvensional.
Hal inilah yang membuat perusahaan kripto mulai memainkan peran penting dalam perang melawan penipuan digital global.
Starlink Putus Ribuan Perangkat yang Dipakai Scammer
Selain media sosial dan aset digital, jaringan internet yang digunakan sindikat scammer juga ikut menjadi target operasi.
Starlink mengonfirmasi bahwa mereka telah memutus konektivitas ribuan perangkat yang diduga dipakai secara ilegal untuk menjalankan aktivitas penipuan online.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari kebijakan perusahaan dalam mencegah penyalahgunaan layanan internet satelit mereka.
Menurut Starlink, teknologi internet pada dasarnya memang bisa digunakan untuk tujuan positif maupun negatif. Karena itu, perusahaan menegaskan tidak akan mentoleransi penggunaan jaringan mereka untuk aktivitas kriminal.
Keputusan memblokir perangkat ini dinilai penting karena banyak jaringan scam modern kini beroperasi secara mobile dan berpindah-pindah lokasi untuk menghindari pelacakan aparat.
Online Scams Asia Tenggara Jadi Ancaman Global
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Asia Tenggara memang menjadi sorotan karena berkembangnya pusat operasi scam digital skala besar.
Sindikat ini biasanya menjalankan berbagai modus penipuan mulai dari romance scam, investasi palsu, phishing, hingga penipuan kerja online.
Korban mereka tidak hanya berasal dari Asia, tetapi juga Eropa, Amerika Serikat, hingga Australia.
Yang lebih mengkhawatirkan, banyak operasi scam tersebut disebut melibatkan praktik kerja paksa dan perdagangan manusia.
Korban direkrut dengan janji pekerjaan bergaji tinggi, namun akhirnya dipaksa bekerja menjalankan penipuan online di pusat operasi tertutup.
Karena itu, operasi gabungan internasional seperti ini dianggap sangat penting untuk memutus jaringan kriminal dari sumbernya.
Teknologi AI dan Data Jadi Senjata Lawan Scammer
Perusahaan teknologi kini semakin agresif memanfaatkan AI dan analisis data untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan.
Meta misalnya menggunakan sistem pemantauan otomatis untuk mengidentifikasi pola perilaku akun scammer di Facebook dan Instagram.
Microsoft juga mengembangkan Digital Crimes Unit yang fokus melacak aktivitas kriminal siber lintas platform.
Sementara itu, perusahaan keuangan digital mulai memanfaatkan teknologi blockchain analytics untuk mengikuti pergerakan dana hasil penipuan.
Kolaborasi semacam ini membuat scammer semakin sulit bersembunyi karena aktivitas mereka bisa terhubung dari satu platform ke platform lainnya.
Dengan kata lain, era ketika pelaku scam bebas berpindah-pindah platform tanpa terlacak perlahan mulai berakhir.