Sektor B2B: Ekspansi Agresif Mitratel dan NeutraDC
Selain segmen konsumer, lini bisnis Business-to-Business (B2B) Infrastructure juga menunjukkan performa yang menjanjikan. Segmen ini meraup pendapatan sebesar Rp2,4 triliun, tumbuh signifikan sebesar 6,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bisnis penyewaan serat optik ke menara telekomunikasi atau Fiber-to-the-Tower (FTTT) menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut.
Anak usaha Telkom di bidang menara, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), menyumbang pendapatan sebesar Rp2,3 triliun. Sektor penyewaan menara (Tower Leasing) tetap menjadi kontributor terbesar bagi stabilitas pendapatan grup. Berkat pengelolaan biaya yang efisien, Mitratel mampu mempertahankan margin EBITDA yang sangat tinggi di level 82,7%.
Guna memperkuat posisinya sebagai raja menara di Asia Tenggara, Mitratel terus memperluas jaringan serat optiknya secara agresif. Selama kuartal pertama, Mitratel menambah panjang kabel fiber optic sepanjang 1.080 km. Langkah ini membuat total kepemilikan aset serat optik perusahaan kini mencapai 58.279 km. Penguatan portofolio infrastruktur ini turut menjadi pilar kokoh yang menjaga stabilitas kinerja keuangan Telkom 2026 secara keseluruhan.
Sementara itu, pada bisnis pusat data (data center), kontribusi pendapatan berasal dari NeutraDC Group dan NeuCentrIX. Kedua entitas ini terus memperluas kapasitas layanan colocation dan edge data center guna menangkap peluang pasar cloud computing yang sedang booming di Indonesia.
Secara keseluruhan, keberhasilan menjaga momentum pada awal tahun ini membuktikan bahwa kinerja keuangan Telkom 2026 siap menghadapi tantangan industri telekomunikasi yang dinamis. Dengan fondasi bisnis yang kuat, perseroan berada pada posisi yang tepat untuk terus berkontribusi bagi akselerasi digitalisasi nasional.