Grafit sendiri berkontribusi hingga 40 persen dari total jejak karbon dalam pembuatan baterai lithium-ion konvensional. Tozero menargetkan pabrik mereka mulai beroperasi penuh pada tahun 2027 dengan kapasitas produksi 2.000 ton grafit daur ulang per tahun. Jumlah tersebut diklaim cukup untuk memasok kebutuhan produksi sekitar 50.000 unit mobil listrik baru tanpa perlu melakukan penambangan baru yang merusak lingkungan.
Dampak Serius Terhadap Hilirisasi Nikel Indonesia
Perkembangan teknologi ini tentu menjadi perhatian serius bagi Indonesia yang sedang gencar melakukan hilirisasi nikel. Indonesia saat ini mengandalkan teknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL) untuk mengekstrak Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dari bijih nikel kadar rendah (limonit). MHP ini kemudian diolah menjadi nikel sulfat, komponen vital untuk katoda baterai.
Proyek-proyek raksasa di Morowali dan Weda Bay terus digenjot untuk memenuhi permintaan global. Namun, jika pasar Eropa yang merupakan salah satu pasar EV terbesar mulai beralih ke bahan daur ulang, serapan nikel asal Indonesia bisa terganggu. Apalagi, Uni Eropa juga terus memperketat aturan mengenai jejak karbon dari produk impor, yang sering kali menyudutkan nikel Indonesia karena proses produksinya masih menggunakan energi dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.
Persaingan Sengit Melawan Dominasi China
Selama ini, China menguasai rantai pasok daur ulang baterai global melalui raksasa teknologi seperti CATL. Negara Tirai Bambu ini telah membangun regulasi daur ulang baterai yang sangat matang sejak tahun 2018. Perusahaan-perusahaan China kini memiliki kapasitas daur ulang terbesar di dunia, yang memungkinkan mereka memproduksi baterai dengan harga yang sangat kompetitif.
Langkah Eropa untuk mandiri secara teknologi daur ulang ini secara langsung menantang dominasi pasar yang selama ini dinikmati oleh China. Melalui startup lokal seperti Altilium dan Tozero, Eropa berusaha memutus rantai ketergantungan geopolitik tersebut dan menciptakan ekosistem sirkular yang mandiri di dalam kawasan mereka sendiri.
Menghadapi pergeseran tren global ini, Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan ekspor komoditas setengah jadi dengan jejak karbon tinggi. Pemerintah dan pelaku industri harus mulai melirik investasi pada teknologi hijau dan pengolahan ramah lingkungan. Indonesia harus segera mengantisipasi tren daur ulang baterai mobil listrik ini agar industri nikel dalam negeri tetap kompetitif di pasar global yang semakin menuntut keberlanjutan.