Tantangan Menjalankan Ibadah di Orbit Bumi
Menjalani misi SpaceX Crew-6 sejak Februari 2023, Al Neyadi harus melewati berbagai momen penting keagamaan di luar angkasa. Ia melewati bulan suci Ramadan, Idul Fitri, hingga Idul Adha di lingkungan tanpa gravitasi. Kondisi ekstrem ini menuntutnya untuk beradaptasi dalam melaksanakan ibadah harian, termasuk menjaga arah kiblat dan waktu shalat yang terus berubah seiring pergerakan stasiun luar angkasa.
Beribadah di ISS memang membutuhkan panduan fikih khusus dari lembaga keagamaan di bumi. Mengingat stasiun luar angkasa ini bergerak dengan kecepatan luar biasa sekitar 28.000 kilometer per jam, penentuan waktu subuh, maghrib, dan isya menjadi sangat menantang. Berdasarkan panduan dari otoritas keagamaan, Al Neyadi diperbolehkan menggunakan waktu standar di bumi, khususnya waktu Makkah atau waktu tempat peluncuran roketnya, demi menjaga konsistensi ibadahnya di lingkungan gravitasi mikro.
- Menggunakan waktu Makkah sebagai acuan utama ibadah harian di orbit.
- Menyesuaikan gerakan shalat dengan kondisi tanpa gravitasi menggunakan alat bantu penahan tubuh.
- Menjaga fokus spiritual meskipun berada di lingkungan kerja sains yang sangat padat.
Pengalaman spiritual Al Neyadi di luar angkasa ini memberikan perspektif baru bagi umat Islam di seluruh dunia. Melalui karya visualnya, termasuk foto Haji dari angkasa, kita diingatkan bahwa jarak fisik yang sangat jauh sekalipun tidak akan pernah mengurangi kekhusyukan dan kedekatan seorang hamba kepada Sang Pencipta.