Sebagai bentuk perlawanan, sebuah petisi internal mulai beredar luas sejak pekan lalu. Petisi tersebut menuntut penghentian segera inisiatif MCI dan meminta transparansi penuh mengenai bagaimana data karyawan digunakan. Para pekerja berpendapat bahwa perusahaan sebesar Meta seharusnya memiliki standar etika yang lebih tinggi dalam memperlakukan aset terpenting mereka, yaitu manusia.
Aksi Protes di Kafetaria dan Ruang Publik
Perlawanan karyawan tidak hanya berhenti di forum digital internal. Di beberapa area publik kantor, seperti kafetaria, ditemukan selebaran yang mengajak pegawai untuk bersatu menolak kebijakan pemantauan tersebut. Gerakan ini menunjukkan bahwa rasa frustrasi telah meluap dari sekadar keluhan anonim menjadi tindakan nyata yang terorganisir.
Seorang pegawai menuliskan bahwa kombinasi antara PHK, pemangkasan anggaran, dan intensitas kerja yang ekstrem telah menciptakan budaya kerja yang toksik. Ia juga menyinggung rekam jejak privasi Meta yang selama ini sering mendapat kritik tajam dari publik global. Jika Meta tidak mampu menghormati privasi karyawannya sendiri, maka kepercayaan publik terhadap produk AI mereka juga dipastikan akan hancur.
Pakar industri menilai bahwa pelacakan aktivitas karyawan Meta ini bisa menjadi bumerang bagi perusahaan dalam memperebutkan talenta terbaik di bidang teknologi. Insinyur tingkat atas cenderung menghindari perusahaan yang menerapkan pengawasan ketat ala "Big Brother", terutama di tengah persaingan ketat dengan perusahaan seperti OpenAI dan Google yang juga agresif mengembangkan AI.
Ke depannya, Meta harus mampu menyeimbangkan antara ambisi teknologi dan kesejahteraan psikologis pekerjanya. Tanpa dukungan penuh dari para insinyurnya, visi Zuckerberg untuk memimpin industri AI mungkin akan terhambat oleh konflik internal yang berkepanjangan. Hingga saat ini, isu mengenai pelacakan aktivitas karyawan Meta tetap menjadi topik panas yang terus dipantau oleh para pengamat teknologi di seluruh dunia.