Gerakan perlawanan anti-AI global kini telah mencapai titik didih yang sangat mengkhawatirkan setelah serangkaian serangan fisik menyasar para petinggi teknologi. Pada 10 April 2026, suasana tenang di kawasan elite Pacific Heights, San Francisco, berubah menjadi mencekam saat fajar menyingsing. Seorang pria muda nekat melemparkan bom molotov ke arah gerbang rumah mewah senilai 27 juta dolar milik Sam Altman, CEO OpenAI. Meski api berhasil dipadamkan oleh petugas keamanan dengan cepat, insiden ini menandai babak baru yang lebih agresif dari penolakan masyarakat terhadap perkembangan kecerdasan buatan.
Pelaku yang teridentifikasi bernama Daniel Moreno-Gama, pemuda berusia 20 tahun asal Texas, tidak berhenti di situ. Kurang dari satu jam setelah aksi pembakaran tersebut, ia muncul di markas OpenAI di kawasan Mission Bay. Dengan penuh amarah, ia mencoba menghancurkan pintu kaca menggunakan kursi dan mengancam akan membakar seluruh gedung sebelum akhirnya diringkus polisi. Investigasi mengungkap fakta mengejutkan bahwa Moreno-Gama membawa sebuah manifesto tiga bagian bertajuk "Your Last Warning". Dokumen tersebut secara eksplisit menyerukan pembunuhan terhadap para CEO dan investor perusahaan AI, lengkap dengan daftar alamat pribadi mereka di seluruh Amerika Serikat.
Eskalasi Teror dan Ancaman Terhadap Infrastruktur
Intensitas serangan ini menunjukkan bahwa gerakan perlawanan anti-AI global bukan lagi sekadar perdebatan di media sosial, melainkan ancaman nyata di dunia fisik. Hanya berselang dua hari dari insiden molotov, sebuah mobil sedan Honda melepaskan tembakan ke arah rumah Sam Altman lainnya di Russian Hill. Fenomena ini sejalan dengan pernyataan Altman sendiri yang pernah mengakui bahwa ketakutan publik terhadap AI memiliki dasar yang kuat. Kecemasan ini berakar dari ketidakpastian masa depan pekerjaan dan kendali manusia atas mesin yang semakin cerdas.
Baca Juga :
Sentimen negatif ini juga merembet ke pembangunan infrastruktur teknologi. Di Indianapolis, Ron Gibson selaku anggota dewan kota harus menghadapi kenyataan pahit ketika rumahnya ditembaki sebanyak 13 kali. Penyerang meninggalkan pesan singkat namun tegas di pintunya: "No data centers". Hal ini terjadi sesaat setelah ia memberikan persetujuan untuk pembangunan pusat data baru di wilayahnya. Di Missouri, kemarahan warga bahkan berujung pada pemecatan massal anggota dewan kota yang menyetujui proyek data center senilai enam miliar dolar, mencerminkan betapa besarnya jurang pemisah antara kepentingan korporasi teknologi dan keinginan masyarakat lokal.
Gelombang Protes Massal di Benua Eropa
Melintasi Samudra Atlantik, gerakan perlawanan anti-AI global juga mengguncang pusat-pusat kota besar di Eropa. London menjadi saksi bisu aksi protes terbesar dalam sejarah Inggris yang menentang dominasi teknologi pada akhir Februari 2026. Ratusan demonstran melakukan long march melewati kantor-kantor raksasa seperti OpenAI, Google DeepMind, dan Meta sambil meneriakkan slogan "Pull the plug!". Mereka menuntut pemerintah untuk berhenti memprioritaskan kemitraan dengan Big Tech dan mulai mendengarkan kekhawatiran rakyat jelata mengenai privasi dan etika digital.