- Level Subtle: Typo sangat sedikit dan tersembunyi.
- Level Moderate: Beberapa kesalahan huruf kapital dan tanda baca.
- Level CEO: Typo yang cukup banyak, mencerminkan gaya komunikasi orang sibuk.
- Fitur Signature: Penambahan otomatis label perangkat seluler.
Inovator di balik Sinceerly adalah Ben Horwitz, seorang investor ternama dari Silicon Valley. Ia membangun alat ini menggunakan model Claude AI buatan Anthropic. Horwitz secara terbuka menyebut karyanya sebagai "anti-Grammarly." Jika Grammarly berfokus pada kesempurnaan tata bahasa, Sinceerly justru melakukan hal sebaliknya dengan mengacak-acak email menggunakan bantuan kecerdasan buatan.
Horwitz telah melakukan uji coba yang cukup provokatif sebelum meluncurkan alat ini. Ia mengirimkan email kepada lima CEO dari daftar Fortune 500 menggunakan teks yang sudah diproses oleh Sinceerly. Hasilnya cukup mengejutkan, di mana empat dari lima CEO tersebut membalas pesan tersebut. Menariknya, dua dari balasan tersebut juga mengandung typo, membuktikan bahwa ketidaksempurnaan adalah bahasa universal manusia dalam berkomunikasi cepat.
Ironi di Balik Penggunaan AI untuk Menutupi AI
Kehadiran Sinceerly memicu diskusi menarik di kalangan pakar teknologi. Kita kini berada di era di mana kita menggunakan kecerdasan buatan untuk menutupi jejak kecerdasan buatan itu sendiri. Ben Horwitz melihat celah dalam cara membuat tulisan AI terlihat manusiawi melalui ketidaksempurnaan yang disengaja. Ini adalah bentuk adaptasi terhadap algoritma deteksi AI yang semakin canggih.
Selama ini, alat deteksi AI bekerja dengan mencari tingkat "kebosanan" (perplexity) dan "keragaman" (burstiness) dalam sebuah teks. Tulisan manusia asli biasanya memiliki variasi panjang kalimat yang acak dan terkadang ada kesalahan kecil. Dengan menyisipkan typo secara strategis, Sinceerly mencoba meniru pola keacakan manusia tersebut agar lolos dari pemindaian sistem keamanan atau kecurigaan manusia.
Namun, penggunaan teknologi seperti ini juga memunculkan perdebatan etika. Apakah memanipulasi tulisan agar terlihat kurang sempurna merupakan tindakan yang jujur? Di sisi lain, banyak pengguna merasa tertekan oleh ekspektasi bahwa setiap tulisan harus sempurna, padahal secara alami manusia sering melakukan kesalahan saat berkomunikasi secara digital.
Bagi para profesional, menggunakan plugin ini adalah salah satu cara membuat tulisan AI terlihat manusiawi yang paling praktis saat ini. Di tengah banjirnya konten otomatis, keaslian (authenticity) menjadi komoditas yang sangat mahal. Meskipun ironis, terkadang kita butuh sedikit "cacat" untuk menunjukkan bahwa ada jiwa manusia di balik layar komputer atau ponsel tersebut.
Perkembangan teknologi seperti Sinceerly menunjukkan bahwa tren digital akan selalu bergerak secara dialektis. Ketika sebuah teknologi untuk merapikan tulisan mencapai puncaknya, maka akan muncul teknologi tandingan yang menawarkan ketidakrapian. Dunia komunikasi digital masa depan mungkin tidak lagi memperdebatkan mana yang benar atau salah secara tata bahasa, melainkan mana yang terasa lebih personal dan hangat.