Technonesia - Proyek Tambang Uranium AS yang berlokasi di wilayah Dakota Selatan kini berada di tengah pusaran kontroversi besar antara ambisi energi nasional dan keselamatan lingkungan. Sarah Peterson, seorang warga Hot Springs, menjadi salah satu sosok yang paling vokal menyuarakan penolakan terhadap rencana ekstraksi mineral radioaktif tersebut. Jarak tempat tinggalnya yang hanya 50 kilometer dari situs tambang membuatnya merasa terancam oleh potensi pencemaran sumber daya alam yang paling vital bagi kehidupan.
Sebagai pendiri kelompok lingkungan 'It's All About the Water', Peterson menegaskan bahwa wilayahnya merupakan daerah yang sangat kering dengan cadangan air yang terbatas. Menurutnya, ketersediaan air bersih adalah harga mati yang tidak bisa ditawar demi kepentingan industri. Ketakutan ini bukan tanpa alasan, mengingat teknologi yang akan digunakan dalam operasional tambang tersebut melibatkan injeksi cairan kimia ke dalam perut bumi yang berisiko merusak kualitas air tanah secara permanen.
Teknologi In Situ Recovery dan Risiko di Balik Proyek Tambang Uranium AS
Mulai tahun depan, para engineer berencana melakukan pengeboran besar-besaran di formasi batupasir kaya uranium pada kedalaman 230 meter di bawah tanah. Metode yang mereka gunakan dikenal sebagai In Situ Recovery (ISR). Dalam proses ini, ribuan sumur akan menyuntikkan cairan khusus untuk melarutkan uranium langsung di dalam akuifer. Air yang telah mengandung uranium tersebut kemudian diangkat ke permukaan untuk diekstraksi menjadi konsentrat yang disebut yellowcake.
Pengembangan Proyek Tambang Uranium AS ini merupakan bagian dari skema 'Dewey Burdock Project' yang bertujuan memenuhi lonjakan permintaan uranium global. Yellowcake yang dihasilkan nantinya akan menjadi bahan baku utama bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) hingga komponen senjata nuklir. Meski industri mengklaim metode ISR lebih ramah lingkungan karena tidak meninggalkan lubang raksasa di permukaan tanah, masyarakat lokal tetap skeptis terhadap keamanan jangka panjangnya.
Pemerintahan Donald Trump sebelumnya telah memberikan lampu hijau dengan mempercepat berbagai izin regulasi untuk menghidupkan kembali industri nuklir domestik. Kebijakan ini memicu gelombang rencana pembangunan puluhan tambang serupa di seluruh wilayah Barat Amerika Serikat. Para pendukung kebijakan ini berargumen bahwa kemandirian energi adalah prioritas utama, namun mengabaikan fakta bahwa geologi wilayah Black Hills di Dakota Selatan sangatlah kompleks dan rentan terhadap kebocoran kontaminasi.
Konflik Geopolitik dan Ambisi Energi Nuklir
Langkah mempercepat Proyek Tambang Uranium AS ini juga tidak lepas dari persaingan geopolitik global. Saat ini, Rusia mulai memperluas pengaruh nuklirnya di kawasan Timur Tengah, termasuk Iran. Amerika Serikat merasa perlu mengamankan pasokan uranium dalam negeri agar tidak bergantung pada impor dari negara-negara pesaing. Namun, ambisi besar ini justru menabrak kepentingan masyarakat adat dan petani lokal yang menggantungkan hidup pada akuifer utama di wilayah tersebut.