Fragmentasi habitat ini sangat berbahaya karena membatasi ruang gerak orangutan untuk mencari makan dan pasangan. Jika populasi kecil terisolasi dalam satu kantong hutan yang sempit, maka risiko perkawinan sedarah (inbreeding) akan meningkat. Hal ini akan melemahkan ketahanan genetik mereka dan mempercepat proses Orangutan Tapanuli terancam punah.
Namun, di tengah kabar duka tersebut, masih ada secercah harapan bagi para aktivis lingkungan. Bulan lalu, para ilmuwan dari Yayasan Orang Utan Sumatra Lestari menemukan kelompok kecil Orangutan Tapanuli di hutan rawa. Lokasi penemuan ini berada sekitar 32 kilometer dari area inti Batang Toru yang selama ini dipetakan sebagai habitat utama mereka.
Temuan ini menunjukkan bahwa distribusi spesies ini mungkin lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya. Meski demikian, penemuan di wilayah baru bukan berarti mereka aman dari ancaman. Justru, wilayah hutan rawa tersebut seringkali tidak masuk dalam skema perlindungan ketat, sehingga rentan terhadap penebangan liar dan konversi lahan oleh korporasi maupun masyarakat lokal.
IUCN memberikan peringatan keras bahwa jika tidak ada peningkatan upaya konservasi yang drastis, populasi mereka bisa menyusut hingga 83 persen dalam tiga generasi mendatang. Angka ini merupakan alarm bagi pemerintah Indonesia dan komunitas internasional untuk segera bertindak. Penyelamatan hutan Batang Toru adalah kunci utama agar Orangutan Tapanuli terancam punah tidak benar-benar hilang dari sejarah alam nusantara.
Dukungan kebijakan yang kuat serta penegakan hukum terhadap pelaku deforestasi ilegal menjadi harga mati. Tanpa adanya sinkronisasi antara pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan, kera besar paling langka di dunia ini hanya akan menjadi catatan kaki dalam buku sains. Masyarakat dunia kini menunggu langkah nyata untuk memastikan Orangutan Tapanuli terancam punah mendapatkan kesempatan kedua untuk tetap lestari.