Opsi kedua yang cukup berisiko adalah membiarkan stok yang ada habis total dan menghentikan penjualan sementara. Apple kemudian baru akan merilis generasi terbaru MacBook Neo pada pertengahan tahun 2027. Namun, langkah ini berpotensi mengecewakan jutaan calon pembeli yang sudah menantikan laptop terjangkau ini. Kehilangan momentum di pasar laptop kelas menengah bisa memberikan celah bagi produsen laptop berbasis Windows untuk merebut kembali pangsa pasar.
Skenario ketiga melibatkan penggunaan chip generasi terbaru, yakni A19 Pro. Meski terdengar menjanjikan dari sisi performa, penggunaan chip yang lebih canggih tentu akan mendongkrak harga jual MacBook Neo secara drastis. Jika harga jualnya naik, maka daya tarik utama dari produk ini sebagai "MacBook murah" akan hilang seketika. Konsumen mungkin akan lebih memilih untuk beralih ke model MacBook Air yang sudah mapan di pasaran.
Keputusan akhir mengenai kelanjutan Produksi MacBook Neo Apple akan sangat bergantung pada bagaimana Apple melihat nilai strategis dari perangkat ini. CEO Tim Cook sendiri sempat mengungkapkan bahwa Mac mencatatkan rekor peluncuran terbaik bagi pelanggan baru berkat kehadiran MacBook Neo. Ini membuktikan bahwa strategi harga murah sangat efektif dalam memperluas basis pengguna Apple di seluruh dunia, meskipun tantangan produksinya sangat kompleks.
Di pasar Indonesia, antusiasme terhadap laptop murah Apple ini juga sangat tinggi. Banyak konsumen yang selama ini tertahan oleh harga MacBook yang mahal mulai melirik MacBook Neo sebagai pintu masuk ke ekosistem macOS. Jika pasokan terhenti, hal ini tentu akan memicu spekulasi harga di tingkat pengecer, yang pada akhirnya justru merugikan konsumen akhir. Apple kini harus berpacu dengan waktu untuk memastikan rantai pasok mereka kembali stabil.
Bagaimanapun juga, keberhasilan MacBook Neo telah memberikan pelajaran berharga bagi industri teknologi. Ternyata, minat pasar terhadap perangkat premium dengan harga terjangkau masih sangat besar, bahkan di tengah krisis ekonomi global. Apple kini memikul beban untuk membuktikan bahwa mereka mampu mengelola Produksi MacBook Neo Apple dengan efisien, sekaligus menyeimbangkan antara ambisi pertumbuhan pengguna dan ketersediaan komponen yang makin langka di pasar global.