- Kualitas Data Pelatihan: Sebanyak 47% organisasi mengeluhkan minimnya data berkualitas tinggi untuk melatih sistem keamanan berbasis AI mereka.
- Kelangkaan Talenta: Sekitar 37% perusahaan masih kesulitan menemukan tenaga ahli di bidang AI dan keamanan siber yang mumpuni.
- Kesesuaian Solusi: 29% pelaku bisnis merasa kesulitan menemukan solusi keamanan yang benar-benar pas dengan skala dan kebutuhan operasional mereka.
Tantangan-tantangan ini menyebabkan banyak perusahaan masih berada dalam masa transisi. Mereka memiliki alat keamanan, namun belum terintegrasi secara menyeluruh, sehingga menciptakan celah yang bisa dimanfaatkan oleh peretas. Kondisi infrastruktur yang terfragmentasi inilah yang sering kali menjadi titik lemah dalam menghadapi ancaman siber di Indonesia secara kolektif.
Komitmen Kaspersky dalam Memperkuat Pertahanan Digital
Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menekankan bahwa teknologi adalah kunci utama dalam menavigasi transformasi digital yang sangat cepat di kawasan ini. Kaspersky sendiri telah menjadi pionir dalam penggunaan machine learning sejak dua dekade lalu. Menurutnya, solusi yang mereka kembangkan dirancang untuk melindungi semua level, mulai dari pengguna individu hingga sistem pemerintahan yang paling rahasia dan infrastruktur kritis negara.
Di sisi lain, Country Manager Kaspersky Indonesia, Defi Nofitra, menyoroti pentingnya integrasi sistem. Menurut Defi, perusahaan tidak boleh lagi mengandalkan solusi keamanan yang terpisah-pisah. Ia merekomendasikan penggunaan SOC terintegrasi yang didukung oleh Security Information and Event Management (SIEM) serta intelijen ancaman real-time. Dengan cara ini, perusahaan dapat melakukan deteksi dini dan merespons insiden dengan sangat cepat, sehingga kerugian dapat diminimalisir.
Baca Juga :
Langkah strategis ini juga tercermin dalam performa bisnis Kaspersky yang terus bertumbuh. Secara global, perusahaan mencatat kenaikan penjualan sebesar 4% dengan total pendapatan mendekati USD 836 juta. Di Indonesia, pertumbuhan bisnis mencapai 3% secara tahunan (YoY), dengan lonjakan luar biasa sebesar 48% pada segmen konsumen (B2C). Angka-angka ini menjadi bukti bahwa publik semakin sadar akan bahaya laten dari serangan digital yang terus mengintai.
Melalui penguatan teknologi dan kolaborasi antar-sektor, Indonesia diharapkan mampu membangun ekosistem digital yang lebih resilien. Kesadaran untuk berinvestasi pada teknologi SOC dan sumber daya manusia menjadi peta jalan dalam meredam ancaman siber di Indonesia. Pada akhirnya, ketahanan siber bukan hanya soal teknologi, melainkan tentang kesiapan organisasi dalam menjaga kepercayaan pelanggan dan keberlangsungan bisnis di tengah lanskap digital yang penuh risiko. Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan cepat akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang dalam menghadapi risiko ancaman siber di Indonesia secara tuntas.