- Asus: B+
- Acer: B
- HP: B-
- Dell: B-
- Samsung: B-
- Microsoft: B-
- Lenovo: C
- Apple: C-
Dari daftar di atas, Apple dengan jajaran MacBook miliknya masih menyandang gelar sebagai merek laptop paling susah diperbaiki dengan skor C-. Hal ini sebenarnya bukan rahasia lagi di kalangan teknisi, mengingat Apple sering kali menyolder komponen seperti RAM dan SSD langsung ke logic board. Selain itu, penggunaan baut khusus dan lem perekat yang sangat kuat pada bagian baterai membuat proses penggantian komponen menjadi sangat berisiko bagi orang awam.
Sebaliknya, Asus menunjukkan komitmen luar biasa dengan meraih skor B+, yang berarti perangkat mereka relatif lebih mudah untuk dibongkar dan suku cadangnya lebih tersedia. Menariknya, vendor besar seperti HP dan Lenovo melakukan perubahan signifikan pada tahun ini. Mereka mulai merancang laptop yang lebih modular agar proses servis tidak memakan waktu lama dan biaya yang dikeluarkan konsumen tetap kompetitif.
Dampak Buruk Terhadap Lingkungan dan Ekonomi
Identitas sebagai merek laptop paling susah diperbaiki tampaknya masih melekat pada beberapa vendor karena alasan estetika desain. Namun, US PIRG Education Fund menegaskan bahwa dampak dari sulitnya memperbaiki perangkat ini tidak hanya memukul isi kantong konsumen secara langsung. Ada konsekuensi lingkungan yang jauh lebih besar dan berbahaya jika budaya "pakai-buang" ini terus berlanjut tanpa kendali dari pemerintah dan kesadaran produsen.
Limbah elektronik atau e-waste saat ini telah menjadi masalah global yang sangat serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyatakan bahwa limbah elektronik adalah jenis limbah padat dengan pertumbuhan paling pesat di dunia. Ketika sebuah laptop sulit diperbaiki, perangkat tersebut akan berakhir di tempat pembuangan sampah lebih cepat. Komponen kimia berbahaya di dalamnya dapat mencemari tanah dan sumber air jika tidak dikelola dengan benar melalui sistem daur ulang yang canggih.
Selain itu, ketergantungan pada perangkat baru meningkatkan permintaan penambangan material langka yang merusak ekosistem hutan. Oleh karena itu, gerakan Right to Repair kini semakin gencar di berbagai belahan dunia untuk menuntut produsen agar menyediakan akses alat dan suku cadang bagi pengguna. Dengan memperbaiki perangkat yang rusak, konsumen dapat memperpanjang usia pakai laptop hingga dua atau tiga tahun lebih lama, yang secara signifikan mengurangi jejak karbon individu.
Sangat penting bagi Anda untuk memahami daftar merek laptop paling susah diperbaiki sebelum memutuskan membeli perangkat baru untuk sekolah atau bekerja. Pilihlah merek yang memberikan garansi panjang dan memiliki pusat servis resmi yang tersebar luas di kota Anda. Jangan hanya tergiur dengan desain yang tipis dan cantik, namun pastikan perangkat tersebut bisa bertahan lama dan mudah dirawat dalam jangka panjang. Dengan menjadi konsumen yang cerdas, kita secara tidak langsung ikut menekan laju pertumbuhan limbah elektronik dan menghindari merek laptop paling susah diperbaiki demi keberlanjutan lingkungan.