Lapisan perlindungan MOF ini bertindak sebagai perisai terhadap faktor lingkungan yang merusak. Berdasarkan hasil pengujian, pita teknologi penyimpanan data DNA ini mampu bertahan lebih dari 345 tahun jika disimpan pada suhu ruangan. Jika suhu diturunkan hingga 0 derajat Celcius, masa pakainya melonjak drastis hingga 20.000 tahun. Ketahanan ini memastikan informasi penting umat manusia dapat tersimpan melintasi peradaban tanpa takut kehilangan data akibat degradasi material.
Keunikan lainnya terletak pada kemudahan pemeliharaan. Jika pita fisik mengalami kerusakan atau terputus, para peneliti mengklaim bahwa pita tersebut bisa diperbaiki hanya dengan menggunakan perekat transparan biasa tanpa merusak integritas data di dalamnya. Hal ini hampir mustahil dilakukan pada cakram optik atau piringan magnetik hard disk yang sangat sensitif terhadap goresan sekecil apa pun.
Mekanisme Kerja dan Proses Pengambilan Data
Untuk mengelola data yang sangat padat, peneliti menerapkan sistem pelabelan yang canggih. Tiap bagian pita dicetak dengan kode batang (barcode) khusus yang berfungsi sebagai indeks. Kode batang ini menunjukkan file mana saja yang tersimpan di bagian pita tersebut, sehingga proses pencarian data menjadi lebih terorganisir dan cepat.
Cara kerja perangkat pembacanya pun sangat unik, menyerupai pemutar kaset lawas (walkman). Kamera khusus ditempatkan pada mesin pemutar yang memiliki dua rol penggerak. Saat pita bergerak di antara dua rol, kamera akan memindai kode batang untuk menemukan file yang diminta. Setelah posisi file ditemukan, bagian pita tersebut akan dicelupkan ke dalam larutan basa untuk melepaskan untaian DNA dari kerangka pelindungnya.
Setelah DNA terlepas, mesin akan melakukan proses pengurutan (sequencing). Urutan basa nitrogen yang terdiri dari Adenin (A), Sitosin (C), Guanin (G), dan Timin (T) kemudian diterjemahkan kembali oleh algoritma komputer menjadi kode biner (0 dan 1). Hasil akhirnya adalah file digital utuh, baik itu berupa lagu, foto, maupun dokumen teks, yang memiliki kualitas persis sama dengan aslinya.
Meskipun saat ini proses membaca dan menulis data DNA masih memerlukan waktu lebih lama dibandingkan akses ke SSD, para ilmuwan optimis bahwa kecepatan ini akan meningkat seiring perkembangan teknologi bioteknologi. Implementasi teknologi penyimpanan data DNA di masa depan diprediksi akan menjadi standar baru bagi pengarsipan data jangka panjang bagi pemerintah, perpustakaan nasional, hingga perusahaan teknologi raksasa.
Dunia kini sedang memperhatikan bagaimana China memimpin perlombaan penyimpanan data biologis ini. Dengan keberhasilan menciptakan sistem kaset DNA, impian untuk menyimpan seluruh pengetahuan manusia dalam satu ruangan kecil bukan lagi sekadar fiksi ilmiah. Kemajuan teknologi penyimpanan data DNA ini menandai era di mana biologi dan informatika menyatu demi menjaga warisan digital manusia tetap abadi.