Technonesia - Sistem Satelit BeiDou China kini menjadi andalan baru Teheran di tengah kekacauan navigasi yang melanda kawasan Teluk Persia. Ribuan kapal tanker minyak di wilayah strategis tersebut dilaporkan melakukan manipulasi sinyal Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) secara masif. Teknik yang dikenal sebagai spoofing ini bertujuan menyamarkan pergerakan kapal guna menghindari sanksi ekspor minyak yang ketat terhadap Iran.
Perusahaan analisis data maritim, Kpler, menemukan lonjakan drastis dalam pemalsuan lokasi ini. Data menunjukkan kapal-kapal tersebut seolah-olah berlayar di atas daratan atau melakukan manuver tajam dalam jalur poligonal yang tidak masuk akal. Fenomena ini bukan sekadar gangguan teknis biasa, melainkan bagian dari strategi besar untuk mengelabui pengawasan internasional di perairan Teluk.
Kondisi ini semakin diperparah dengan temuan Windward, sebuah perusahaan intelijen maritim. Mereka mencatat lebih dari 1.100 kapal berbeda di kawasan Teluk mengalami gangguan AIS yang signifikan. Hanya dalam waktu satu minggu, intensitas gangguan tersebut melonjak hingga 55 persen, menciptakan risiko keamanan navigasi yang sangat tinggi bagi pelayaran komersial.
Baca Juga :
Kerentanan GPS dan Peralihan ke Teknologi China
Kekacauan yang terjadi di Teluk Persia mengungkapkan kerentanan fatal pada Global Positioning System (GPS) milik Amerika Serikat. Sebagai sistem yang paling banyak digunakan di dunia, ketergantungan terhadap GPS ternyata menjadi titik lemah saat menghadapi perang elektronik modern. Penggunaan Sistem Satelit BeiDou China oleh Iran dianggap sebagai langkah taktis untuk keluar dari dominasi teknologi Barat yang mudah diintervensi.
Clayton Swope, Wakil Direktur Proyek Keamanan Dirgantara di CSIS, menyatakan bahwa banyak pihak memiliki kepentingan untuk mengganggu sinyal navigasi di wilayah tersebut. Negara-negara di sekitar Teluk kemungkinan besar turut memperkuat gangguan sinyal guna melindungi infrastruktur vital mereka. Langkah ini diambil untuk menangkal ancaman serangan pesawat tanpa awak (drone) dan rudal yang mengandalkan koordinat satelit.
Gangguan elektronik semacam ini sebenarnya bukan hal baru dalam konflik modern. Laporan CSIS menyebutkan bahwa metode serupa telah digunakan secara luas dalam perang Rusia-Ukraina sejak tahun 2022. Namun, dampak di kawasan Teluk terasa jauh lebih luas karena memengaruhi berbagai sektor kehidupan sipil, mulai dari penerbangan hingga layanan harian masyarakat.
Baca Juga :
Dampak Luas Terhadap Keselamatan Publik
Gangguan navigasi ini menyebabkan pola terbang pesawat menjadi tidak beraturan dan bergelombang. Di daratan, dampaknya tidak kalah kacau. Layanan pengantaran makanan di Dubai, misalnya, seringkali mendeteksi posisi kurir berada di tengah laut, padahal mereka sedang berada di jalan raya. Ketidakakuratan ini menciptakan risiko besar bagi keselamatan publik secara keseluruhan.
Lisa Dyer, Direktur Eksekutif GPS Innovation Alliance, menekankan bahwa pemalsuan sinyal navigasi adalah ancaman serius bagi keamanan global. Ketika koordinat palsu menyusup ke dalam sistem navigasi pesawat atau kapal tanker, risiko tabrakan dan kecelakaan fatal meningkat tajam. Di sinilah peran Sistem Satelit BeiDou China menjadi pembeda bagi pihak-pihak yang memiliki akses khusus ke teknologi tersebut.