Marcel Stadelmann, seorang peneliti pembayaran dari Zurich University, mengungkapkan bahwa kesadaran akan privasi ini meningkat tajam sejak masa pandemi Covid-19. Kebijakan pemerintah yang ketat selama masa tersebut membuat masyarakat lebih waspada terhadap pengawasan digital. Dengan membayar menggunakan uang tunai, seseorang memiliki kendali penuh atas informasi finansialnya tanpa harus khawatir datanya disalahgunakan atau diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Selain masalah privasi, faktor kepraktisan juga menjadi sorotan. Banyak responden menilai bahwa sistem pembayaran digital terkadang justru lebih rumit dibandingkan uang tunai. Masalah koneksi internet, baterai ponsel yang habis, hingga risiko kejahatan siber membuat sebagian masyarakat merasa lebih aman membawa uang kertas. Mereka menganggap uang tunai adalah instrumen pembayaran yang paling andal dalam segala situasi, termasuk saat kondisi darurat atau gangguan sistem perbankan.
Psikologi Pengeluaran dan Kontrol Diri
Ada aspek psikologis yang sangat kuat dalam penggunaan uang tunai fisik yang tidak dimiliki oleh angka-angka digital di layar ponsel. Saat seseorang mengeluarkan uang kertas dari dompetnya, ada sensasi kehilangan yang secara alami memicu otak untuk lebih berhati-hati dalam berbelanja. Hal ini berbeda dengan transaksi nontunai yang seringkali membuat orang merasa tidak sedang menghabiskan uang, sehingga memicu perilaku konsumtif yang berlebihan.
Stadelmann menjelaskan bahwa masyarakat membutuhkan fitur tambahan pada aplikasi digital agar bisa menyaingi keunggulan uang tunai. Fitur tersebut harus mampu memberikan umpan balik langsung atau peringatan jika pengeluaran sudah melampaui batas. Tanpa adanya kontrol yang nyata seperti pada uang fisik, masyarakat akan tetap merasa bahwa uang tunai adalah alat terbaik untuk mengelola anggaran rumah tangga mereka secara disiplin.
Pemerintah Swiss sendiri tampaknya memahami betul sentimen warganya. SNB bahkan telah mengumumkan rencana untuk merancang seri uang kertas baru yang dijadwalkan mulai beredar pada tahun 2030-an. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa otoritas moneter tidak memiliki rencana untuk menghapus uang kartal dalam waktu dekat. Mereka justru terus memperkuat fitur keamanan pada uang kertas agar tetap relevan di masa depan.
Masa Depan Uang Tunai di Era Global
Fenomena di Swiss ini memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia. Meskipun digitalisasi ekonomi adalah sebuah keniscayaan, keberadaan uang fisik tetap memiliki nilai strategis sebagai cadangan sistem pembayaran. Uang tunai berfungsi sebagai jaring pengaman ketika infrastruktur digital mengalami kegagalan teknis atau serangan siber berskala besar.
Selain itu, inklusi keuangan juga menjadi alasan mengapa uang kertas tidak bisa dihilangkan begitu saja. Tidak semua lapisan masyarakat memiliki akses yang sama terhadap teknologi atau literasi digital yang memadai. Kelompok lansia atau masyarakat di daerah terpencil masih sangat bergantung pada uang tunai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Menghapus uang tunai secara paksa hanya akan menciptakan kesenjangan sosial yang lebih dalam.