"Gambut yang terbakar umumnya adalah gambut yang sudah terdegradasi. Keberadaan sekat kanal diharapkan mampu mengurangi hilangnya air dari ekosistem gambut sehingga lahan tetap lembap," ujar Fiqri dalam keterangannya melalui laman resmi UGM. Ia menambahkan bahwa upaya ini harus dilakukan secara masif di wilayah-wilayah rawan seperti Sumatra dan Kalimantan guna mencegah bencana asap lintas batas.
Selain infrastruktur fisik, kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta harus diperkuat secara permanen. Fiqri mengusulkan agar kerja sama tidak hanya dilakukan saat status keadaan darurat ditetapkan. Perlu ada nota kesepahaman permanen yang diwujudkan dalam aktivitas lapangan rutin, seperti patroli bersama antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, dan kelompok Masyarakat Peduli Api
Perubahan Perilaku dan Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar
Antisipasi terhadap dampak musim kemarau 2026 Indonesia juga harus menyentuh akar permasalahan, yakni perilaku manusia di tingkat tapak. Mayoritas kejadian karhutla di Indonesia dipicu oleh aktivitas manusia, baik yang disengaja untuk pembukaan lahan maupun akibat kelalaian dalam penggunaan api di area terbuka. Oleh karena itu, edukasi mengenai bahaya pembakaran lahan harus terus ditingkatkan.
Sebagai solusi konkret bagi masyarakat dan korporasi, penerapan Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) menjadi sangat krusial, terutama di wilayah luar Pulau Jawa. Pola pembersihan lahan dengan cara membakar harus ditinggalkan dan diganti dengan metode mekanis atau penggunaan mikroorganisme pengurai. Hal ini bertujuan untuk memutus siklus tahunan pemadaman kebakaran yang menghabiskan banyak energi dan biaya negara.
Selain itu, pemerintah perlu mendorong penguatan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem hutan. Masyarakat adat seringkali memiliki cara-cara tradisional yang lebih ramah lingkungan dalam mengelola sumber daya alam. Integrasi antara teknologi modern seperti sensor titik api berbasis satelit dengan pengetahuan lokal masyarakat diharapkan mampu menciptakan sistem peringatan dini yang lebih akurat.
Dengan persiapan yang matang sejak dini, risiko buruk dari musim kemarau 2026 Indonesia diharapkan dapat diminimalisir. Semua pihak, mulai dari instansi pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat luas, memegang peranan penting dalam menjaga agar langit Indonesia tetap biru tanpa gangguan asap. Pencegahan tetap menjadi investasi termurah dibandingkan biaya pemadaman dan dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan.
Kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian lingkungan menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan iklim di masa depan. Jika semua strategi mitigasi dijalankan dengan disiplin, maka ancaman dari musim kemarau 2026 Indonesia tidak akan berkembang menjadi bencana nasional yang merugikan banyak pihak.