Technonesia - Misi Artemis II NASA ke Bulan menjadi tonggak sejarah baru dalam eksplorasi antariksa manusia setelah penantian panjang selama lebih dari lima dekade. NASA secara resmi telah menjadwalkan peluncuran empat astronaut pilihan yang akan mengorbit satelit alami Bumi tersebut pada awal tahun 2026. Keempat sosok pemberani tersebut adalah Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada (CSA), serta tiga astronaut NASA yakni Christina Koch, Victor Glover, dan Reid Wiseman.
Sesuai jadwal yang telah ditetapkan, para awak akan menggunakan kapsul Orion untuk lepas landas dari Bumi pada 1 April 2026 waktu setempat. Misi ambisius ini mengandalkan kekuatan roket Space Launch System (SLS) yang dirancang untuk meluncur pada pukul 22:24 UTC, atau bertepatan dengan pukul 05:24 WIB pada 2 April 2026. Keberangkatan ini sekaligus menandai kembalinya manusia ke orbit Bulan sejak berakhirnya era Apollo pada tahun 1972 silam.
Dalam perjalanan ini, keempat astronaut akan menempuh lintasan yang sangat jauh, bahkan diprediksi melampaui rekor jarak terjauh yang pernah dicapai oleh misi legendaris Apollo 13. Selama mengelilingi Bulan, mereka akan melintasi sisi jauh yang secara teknis sering disebut sebagai "sisi gelap" karena tidak terlihat langsung dari Bumi. Kondisi ini biasanya memicu kekhawatiran mengenai hilangnya sinyal komunikasi akibat terhalang oleh massa Bulan yang sangat besar.
Tantangan Komunikasi dalam Misi Artemis II NASA ke Bulan
Persoalan teknis mengenai komunikasi saat berada di balik Bulan menjadi perdebatan menarik di kalangan internal badan antariksa. Administrator Asosiasi untuk Direktorat Misi Sains NASA, Nicola Fox, menyatakan optimisme bahwa teknologi saat ini sudah jauh lebih maju dibandingkan era 70-an. Menurutnya, Misi Artemis II NASA ke Bulan tetap memungkinkan adanya pertukaran pesan meskipun astronaut sedang berada di titik terjauh.
"Sebenarnya, kami akan tetap bisa berbicara dengan para astronaut saat mereka berada di sisi jauh Bulan," tegas Nicola Fox dalam keterangannya. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada Deep Space Network (DSN) milik NASA yang kini mampu menangkap sinyal dengan lebih presisi. Keberadaan satelit relai dan pembaruan sistem pada kapsul Orion menjadi kunci utama dalam menjaga konektivitas antarplanet ini.
Namun, pandangan sedikit berbeda muncul dari juru bicara NASA lainnya yang memberikan peringatan tentang potensi blackout komunikasi. Ia menjelaskan bahwa kemungkinan besar akan ada jeda waktu sekitar 30 hingga 50 menit di mana awak misi benar-benar kehilangan kontak dengan Bumi. Durasi kegelapan komunikasi ini sangat bergantung pada kalkulasi waktu peluncuran dan sudut orbit yang diambil oleh kapsul Orion saat melintasi cakrawala Bulan.
Dokumentasi Eksklusif dari Sisi Terjauh
Selama berada di area yang sulit dijangkau tersebut, para astronaut tidak akan sekadar duduk diam. Mereka memiliki instruksi khusus untuk mengambil foto dan video resolusi tinggi dari pemandangan yang jarang terlihat oleh mata manusia. Dokumentasi ini sangat krusial bagi ilmuwan untuk mempelajari topografi kawah di sisi jauh Bulan yang memiliki karakteristik berbeda dengan sisi yang menghadap ke Bumi.