Technonesia - Dampak media sosial pada remaja kini tengah menjadi sorotan tajam di meja hijau setelah seorang psikolog klinis memberikan kesaksian kunci mengenai kesehatan mental generasi muda. Dalam persidangan yang menarik perhatian publik ini, psikolog berlisensi Victoria Burke hadir sebagai saksi ahli untuk membedah bagaimana desain aplikasi memengaruhi kondisi psikologis pengguna di bawah umur. Kasus ini menguji apakah perusahaan teknologi besar harus bertanggung jawab atas gangguan mental yang dialami oleh penggunanya.
Victoria Burke memberikan keterangan medis terkait kondisi seorang penggugat yang diidentifikasi sebagai Kaley GM. Remaja ini tercatat telah menggunakan platform YouTube sejak usia enam tahun dan Instagram mulai usia sembilan tahun. Paparan teknologi digital pada usia yang sangat dini tersebut dinilai memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan emosional dan persepsi diri sang anak selama masa pertumbuhan kritisnya.
Di hadapan dewan juri, Burke mengungkapkan bahwa dirinya mendiagnosis Kaley menderita gangguan kecemasan umum. Diagnosis tersebut kemudian berkembang menjadi fobia sosial dan gangguan dismorfik tubuh atau body dysmorphic disorder (BDD). Kondisi ini membuat penderitanya merasa sangat cemas terhadap kekurangan fisik yang mereka persepsikan sendiri, yang sering kali diperparah oleh standar kecantikan di internet.
Meskipun Burke tidak secara langsung menyimpulkan bahwa teknologi adalah penyebab tunggal, ia menegaskan dalam pemeriksaan silang bahwa pengalaman digital memicu perburukan kondisi. Ia menyatakan bahwa dampak media sosial pada remaja seperti Kaley terlihat jelas dari bagaimana pola interaksi online memengaruhi harga dirinya. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di depan pengikutnya menjadi beban mental yang berat bagi sang remaja.
Mengapa Dampak Media Sosial pada Remaja Begitu Signifikan?
Selama proses persidangan, terungkap bahwa Kaley sering mengalami perundungan siber atau cyberbullying dari teman-teman sebayanya. Tekanan ini begitu hebat sehingga ia sempat memutuskan untuk 'menghapus' jejak digitalnya dengan keluar dari semua platform. Namun, daya tarik algoritma dan kebutuhan akan validasi sosial membuatnya kembali menggunakan media sosial tersebut tidak lama kemudian.
Psikolog Burke juga mencatat adanya sisi ambivalen dalam penggunaan teknologi ini. Di satu sisi, Kaley merasa frustrasi ketika karya videonya diklaim oleh orang lain tanpa izin, namun di sisi lain ia sangat menikmati proses kreatif mengunggah konten. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya hubungan antara remaja dengan ruang digital yang menawarkan kesenangan sekaligus ancaman psikologis secara bersamaan.
Menariknya, Burke menjelaskan bahwa fenomena kecanduan media sosial secara formal belum diakui sebagai diagnosis medis mandiri dalam teks profesional kesehatan mental AS, Diagnostic and Statistical Manual (DSM) edisi terbaru. Meskipun istilah ini populer di kalangan masyarakat, para ahli medis masih berhati-hati dalam mengategorikannya sebagai gangguan klinis tetap tanpa penelitian lebih lanjut yang mendalam.