Selain masalah tenaga kerja, Fink juga menyinggung tentang persaingan teknologi global antara Amerika Serikat dan China. Ia menolak anggapan bahwa investasi besar-besaran di sektor AI adalah sebuah gelembung (bubble). Menurutnya, ini adalah perlombaan untuk dominasi teknologi global. Jika sebuah negara tidak berinvestasi secara agresif pada infrastruktur dan tenaga kerja teknis, mereka akan tertinggal dari kompetitor global.
Tantangan Energi dan Masa Depan Ekonomi
Pengembangan AI yang masif membawa tantangan baru, yakni kebutuhan energi yang sangat besar. Fink memperingatkan bahwa biaya energi yang mahal bisa menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi. Ia menyebut kenaikan harga energi sebagai "pajak regresif" yang paling menyiksa kaum miskin. Oleh karena itu, negara-negara harus mampu menyediakan pasokan energi yang murah dan stabil melalui transisi energi terbarukan.
Penyediaan energi ini kembali lagi membutuhkan peran tenaga kerja lapangan. Pembangunan panel surya, turbin angin, hingga pemeliharaan jaringan listrik pintar menjadikan pekerjaan teknis paling dicari di sektor energi hijau. Gen Z dan Gen Alpha diharapkan mulai melirik peluang ini sebagai jalur karier yang menjanjikan secara finansial dan berkelanjutan secara jangka panjang.
Sebagai informasi tambahan, BlackRock yang dipimpin oleh Fink saat ini mengelola aset sekitar US$14 triliun. Dengan skala sebesar itu, pandangan Fink sering kali menjadi kompas bagi arah aliran modal global. Jika BlackRock melihat potensi besar pada sektor keterampilan fisik, maka arus investasi dunia kemungkinan besar akan mengikuti arah tersebut.
Mempersiapkan diri untuk menekuni pekerjaan teknis paling dicari bukan berarti merendahkan nilai pendidikan, melainkan menyelaraskan diri dengan kebutuhan nyata pasar global. Bagi generasi muda, keberanian untuk mengambil jalur yang berbeda dari arus utama bisa menjadi kunci kesuksesan di tengah ketidakpastian ekonomi era kecerdasan buatan.