Technonesia - Krisis pasokan helium global kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas industri teknologi dunia di tengah meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah. Meski pusat manufaktur komponen elektronik tidak berada langsung di zona perang, ketergantungan pada rantai pasok energi membuat industri ini goyah. Hal ini terjadi karena gas helium, yang merupakan unsur krusial dalam pembuatan mikrogas, mayoritas dipasok dari wilayah yang terdampak ketegangan geopolitik tersebut.
Perang yang melibatkan Iran telah mengganggu jalur logistik dan operasional pengolahan gas alam di kawasan Teluk. Qatar, sebagai tetangga dekat dan produsen gas alam cair (LNG) terbesar, memegang peranan vital dalam ketersediaan helium dunia. Pasalnya, helium merupakan produk sampingan dari proses pemurnian gas alam. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini akan langsung memicu efek domino pada ketersediaan material di pasar internasional.
Dampak Krisis Pasokan Helium Global terhadap Industri Chip
Dalam proses manufaktur semikonduktor, helium bukan sekadar pelengkap, melainkan komponen yang tidak tergantikan. Gas ini memiliki titik didih paling rendah di antara semua unsur, menjadikannya agen pendingin paling efektif untuk mesin litografi canggih. Tanpa suhu yang sangat rendah dan terkendali, mesin pembuat chip tercanggih tidak akan bisa beroperasi dengan presisi tinggi.
Selain sebagai pendingin, industri chip menggunakan helium untuk mendeteksi kebocoran pada sistem vakum yang sangat sensitif. Sifat molekul helium yang sangat kecil memungkinkannya menembus celah mikroskopis yang tidak bisa dideteksi oleh gas lain. Oleh karena itu, krisis pasokan helium global yang terjadi saat ini memaksa banyak produsen untuk meninjau ulang target produksi tahunan mereka.
Data menunjukkan bahwa Qatar memasok hampir 33 persen dari total kebutuhan helium di seluruh dunia. Pada tahun 2025 saja, negara ini memproduksi sekitar 63 juta meter kubik gas tersebut. Ketika konflik di Iran memanas, jalur distribusi di Selat Hormuz menjadi berisiko, yang secara otomatis melambungkan harga kontrak helium ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Ancaman pada Sektor Otomotif dan Elektronik Konsumen
Cameron Johnson dari Tidal Wave Solutions mengungkapkan kekhawatirannya dalam ajang Semicon China di Shanghai. Menurutnya, kelangkaan ini akan dirasakan langsung oleh konsumen akhir dalam waktu dekat. Jika stok terus menipis, produsen chip kemungkinan besar akan memperlambat lini produksi mereka atau hanya memprioritaskan pesanan dengan nilai margin tertinggi.
Krisis pasokan helium global ini diprediksi akan memicu kenaikan harga pada perangkat elektronik mulai dari ponsel pintar hingga komputer jinjing. Sektor otomotif, yang baru saja pulih dari kelangkaan chip pasca-pandemi, kini harus kembali menghadapi ketidakpastian. Mobil modern membutuhkan ribuan chip untuk sistem navigasi, pengereman, hingga manajemen baterai pada kendaraan listrik.
Jerry Zhang, perwakilan dari perusahaan semikonduktor asal Swiss, VAT, mengonfirmasi bahwa pasokan kini semakin ketat. Kondisi ini memaksa perusahaan-perusahaan besar untuk mencari alternatif pasokan dari luar Timur Tengah. Amerika Serikat menjadi salah satu harapan utama, namun kapasitas produksi domestik Paman Sam juga memiliki keterbatasan untuk menutup celah yang ditinggalkan oleh Qatar.