Peneliti menduga bahwa mikroba ini tidak mengalami banyak perubahan fisik maupun genetik sejak masa pra-kambrium. Hal ini memberikan kesempatan langka bagi para ahli biologi untuk mempelajari struktur sel purba secara langsung, tanpa harus bergantung pada fosil yang sudah membatu. Pemahaman mengenai evolusi makhluk hidup akan mengalami perubahan besar seiring dengan data baru yang didapatkan dari sampel Afrika Selatan ini.
Selain itu, penemuan ini memperkuat teori tentang "Deep Biosphere" atau biosfer dalam. Teori ini menyatakan bahwa sebagian besar biomassa bumi sebenarnya tersembunyi jauh di bawah kaki kita, di dalam kerak bumi yang selama ini dianggap mati. Kehidupan di bawah tanah ini mungkin memiliki populasi yang lebih besar dan lebih beragam dibandingkan dengan kehidupan yang kita lihat di permukaan tanah maupun di lautan.
Implikasi Luas Terhadap Pencarian Kehidupan di Mars
Dampak dari penelitian ini tidak hanya terbatas pada pemahaman kita tentang bumi, tetapi juga merambah ke bidang astrobiologi. Koalisi peneliti internasional meyakini bahwa penemuan mikroba purba hidup ini menjadi panduan penting dalam mencari tanda-tanda kehidupan di planet lain, terutama Mars. Planet Merah diketahui memiliki kondisi geologi yang mirip dengan formasi batuan di Afrika Selatan.
Saat ini, NASA sedang menjalankan misi melalui robot Perseverance untuk mengumpulkan sampel batuan dari permukaan Mars. Batuan di Mars diperkirakan memiliki usia yang serupa dengan batuan berusia 2 miliar tahun yang ditemukan di bumi. Jika mikroba bisa bertahan hidup dalam batuan kuno di bumi, maka ada peluang besar bahwa sisa-sisa kehidupan atau bahkan mikroba hidup juga tersembunyi di bawah permukaan Mars.
Yohey Suzuki mengungkapkan antusiasmenya terhadap kemungkinan tersebut. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan mengonfirmasi keaslian mikroba dari lapisan geologi sedalam itu di bumi memberikan harapan baru bagi misi luar angkasa. Jika para ilmuwan tahu apa yang harus dicari dan bagaimana cara menemukannya di bumi, maka proses identifikasi kehidupan di Mars akan menjadi jauh lebih akurat dan efisien.
Eksplorasi di masa depan kemungkinan besar akan lebih banyak memfokuskan pada pengeboran bawah tanah di planet lain, daripada sekadar memindai permukaan. Penemuan mikroba purba hidup di Afrika Selatan memberikan protokol baru bagi para ilmuwan dalam menangani sampel luar angkasa agar tidak terkontaminasi oleh mikroba dari bumi saat proses pengambilan dan analisis dilakukan di laboratorium.
Secara keseluruhan, dunia sains kini memiliki perspektif baru mengenai batasan-batasan kehidupan. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai batu mati yang sunyi, ternyata merupakan rumah bagi organisme yang telah melintasi waktu selama miliaran tahun. Kesuksesan penemuan mikroba purba hidup ini akan terus menjadi topik hangat yang memicu berbagai penelitian lanjutan di masa depan.