Advertisement
Sponsor SLOT 01
Scroll Untuk Lanjut Membaca ↓
Technonesia
Persaingan Antariksa AS dan China: NASA Kucurkan Rp 337 Triliun
Advertisement
Sponsor SLOT 16

Persaingan Antariksa AS dan China: NASA Kucurkan Rp 337 Triliun

Iphan S
Iphan STim Redaksi beta.technonesia.id
Kamis, 26 Maret 2026 - 01:35 WIB
Persaingan Antariksa AS dan China: NASA Kucurkan Rp 337 Triliun

Persaingan antariksa AS dan China

Sumber Foto :www.cnbcindonesia.com
Thumb 1
Advertisement
Sponsor SLOT 16

Investasi besar-besaran ini juga mencerminkan bagaimana pemerintah AS melihat luar angkasa sebagai domain keamanan nasional. Dengan menguasai teknologi transportasi nuklir, Amerika Serikat berupaya mengunci posisi sebagai penyedia infrastruktur utama di ruang angkasa dalam, meninggalkan China yang saat ini masih sangat bergantung pada teknologi roket cair tradisional.

Dampak Diplomatik dan Peran Mitra Internasional

Namun, ambisi besar dalam persaingan antariksa AS dan China ini memicu ketidakpastian bagi mitra internasional Amerika. Dihentikannya proyek Lunar Gateway membuat posisi negara-negara seperti Jepang, Kanada, dan European Space Agency (ESA) menjadi menggantung. Sebelumnya, negara-negara tersebut telah menginvestasikan sumber daya yang besar untuk membangun modul-modul stasiun luar angkasa tersebut.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Kepala ESA, Josef Aschbacher, menyatakan pihaknya akan segera mempelajari rencana baru NASA tersebut. Meskipun ada kekecewaan, NASA mencoba meredam situasi dengan menawarkan peran baru bagi mitra internasional. Isaacman menyatakan bahwa peralatan dan komitmen yang sudah ada dapat dialihkan untuk mendukung operasi langsung di permukaan Bulan atau program eksplorasi lainnya yang lebih mendesak.

  • Pengalihan fokus dari orbit ke pendaratan langsung di permukaan Bulan.
  • Penggunaan teknologi nuklir untuk mempercepat misi Mars 2028.
  • Restrukturisasi kontrak dengan perusahaan swasta seperti SpaceX dan Blue Origin.
  • Negosiasi ulang peran mitra internasional dalam ekosistem Artemis.

Perubahan mendadak ini memaksa industri kedirgantaraan global untuk bergerak lebih cepat. Perusahaan-perusahaan besar kini harus merancang ulang perangkat keras mereka agar sesuai dengan visi baru NASA yang lebih agresif. Hal ini menciptakan dinamika pasar baru yang sangat kompetitif, di mana inovasi yang lambat berarti kehilangan kontrak bernilai triliunan rupiah.

Pada akhirnya, segala upaya yang dilakukan NASA melalui anggaran Rp 337 triliun ini bertujuan untuk satu hal: memastikan bahwa bendera Amerika Serikat tetap menjadi yang pertama berkibar kembali di Bulan dalam abad ke-21. Dinamika persaingan antariksa AS dan China akan terus menjadi sorotan dunia, mengingat hasil dari perlombaan ini akan menentukan siapa yang memegang kendali atas ekonomi luar angkasa di masa depan.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Dengan teknologi nuklir dan strategi pendaratan yang lebih cepat, Amerika Serikat berharap dapat menutup celah persaingan yang sempat menyempit. Meski tantangan teknis dan jadwal sangat nyata, optimisme tinggi menyelimuti NASA untuk memenangkan babak krusial ini. Keberhasilan misi ini nantinya akan menjadi bukti apakah anggaran jumbo dan perubahan strategi mampu memastikan dominasi dalam persaingan antariksa AS dan China tetap berpihak pada Washington.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Otomotif, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TECHNONESIA. Ikuti kami di :

TECHNONESIA

KATEGORI

INSIDE TECHNONESIA

Terhubung Dengan Kami :

PT. JOTECH INOVASI MANDIRI @ 2026 | All Rights Reserved