Technonesia - Fenomena geologi dahsyat! Benua Afrika terbelah dua perlahan membentuk Samudra baru di Afrika. Simak 7 fakta menakjubkan tentang EARS dan dampaknya.
Kabar mengenai terbelahnya Benua Afrika mungkin terdengar seperti plot film fiksi ilmiah, namun ini adalah proses geologis nyata yang sedang terjadi saat ini.
Perubahan drastis ini dipicu oleh aktivitas tektonik pada area yang dikenal sebagai Sistem Celah Afrika Timur, atau yang sering disingkat EARS (East African Rift System).
Proses ini tidak hanya akan mengubah peta Afrika, tetapi juga bakal melahirkan sebuah samudra baru yang memisahkan benua tersebut menjadi dua bagian besar.
Meskipun prosesnya sangat lambat—bahkan lebih lambat dari gerakan siput—dampak jangka panjangnya sungguh masif. Mari kita telusuri mengapa fenomena ini terjadi, seberapa cepat perubahannya, dan apa saja fakta menarik di baliknya.
Mengapa Benua Afrika Terbelah Dua? Memahami Sistem Celah Afrika Timur (EARS)
Untuk memahami mengapa Benua Afrika terbelah dua, kita perlu menengok kembali pada dasar ilmu geologi: lempeng tektonik.
Bumi terdiri dari lempeng-lempeng raksasa yang bergerak di atas mantel cair, dan ketika lempeng-lempeng ini berpisah, bertabrakan, atau bergeser, mereka menghasilkan berbagai fenomena geologis seperti gempa bumi dan gunung berapi.
Sistem Celah Afrika Timur (EARS) adalah contoh klasik dari batas lempeng divergen. Ini adalah zona retakan terbesar di dunia, membentang ribuan kilometer.
Zona EARS ini melintasi banyak negara, mulai dari Ethiopia di utara, melewati Kenya, Kongo, Uganda, Rwanda, Burundi, Zambia, Tanzania, Malawi, hingga Mozambique di selatan.
Area ini merupakan titik di mana Lempeng Afrika (secara khusus, Lempeng Nubia dan Lempeng Somalia) sedang tertarik menjauh satu sama lain.
Ketika dua lempeng benua menjauh, kerak bumi meregang dan menipis. Lama kelamaan, peregangan ini menyebabkan pembentukan lembah retakan (rift valley) yang dalam, yang pada akhirnya akan terisi air laut.
Seberapa Cepat Perubahan Ini Berlangsung?
Salah satu fakta yang paling penting untuk ditekankan adalah skala waktu geologis yang terlibat. Fenomena terbelahnya Afrika ini tidak akan terjadi dalam semalam, seratus tahun, atau bahkan seribu tahun.
Studi yang dilakukan pada tahun 2004 dan penelitian-penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa proses pemisahan ini berjalan dengan kecepatan yang luar biasa lambat.
Para ilmuwan memperkirakan lempengan ini bergerak hanya beberapa milimeter per tahun. Kecepatan ini kira-kira setara dengan kecepatan pertumbuhan kuku jari kita.
Sebagai perbandingan, diperlukan waktu antara 5 juta hingga 10 juta tahun agar keretakan tersebut cukup lebar dan dalam untuk menampung air laut, secara efektif menciptakan Samudra baru di Afrika.
Meskipun demikian, ini adalah bukti nyata bahwa peta dunia, meskipun terlihat permanen, sebenarnya terus berubah secara dinamis di bawah kaki kita.