Insentif pemerintah dongkrak penjualan mobil Jetour 2026 menjadi harapan besar bagi pabrikan mobil asal China tersebut. Jetour melihat peluang percepatan penjualan jika subsidi langsung menyentuh kantong konsumen. Sebab, kondisi daya beli masyarakat saat ini masih terasa melemah. Pabrikan otomotif harus mencari cara inovatif untuk menarik minat beli.

Marketing Director PT Jetour Sales Indonesia, Moch Ranggy Radiansyah, secara tegas mendukung kebijakan pemerintah. Dukungan ini terutama berlaku untuk kebijakan yang mendorong pertumbuhan industri otomotif nasional. Oleh karena itu, insentif yang berdampak langsung ke konsumen akan memicu lonjakan permintaan. Jetour siap beradaptasi dengan dinamika pasar yang terus berubah.

Strategi Jetour Menghadapi Perubahan Insentif Kendaraan

Pemerintah Indonesia telah mengambil keputusan penting terkait insentif otomotif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan penghentian insentif kendaraan listrik (EV) pada tahun 2026. Anggaran besar tersebut kini dialihkan. Pemerintah berencana mendukung pengembangan program mobil nasional.

Keputusan ini secara langsung menghentikan fasilitas pembebasan bea masuk impor EV utuh (CBU). Sebelumnya, tarif impor CBU turun drastis dari 50% menjadi 0%. Ranggy menjelaskan bahwa Jetour terus memantau pergerakan kebijakan ini. Meskipun Jetour belum menjual mobil listrik murni (BEV) di Indonesia, perubahan regulasi tetap memengaruhi perencanaan jangka panjang mereka. Sementara itu, fokus utama Jetour saat ini adalah memperkuat segmen mesin bensin konvensional dan teknologi hibrida.

Dukungan Insentif Langsung Konsumen: Kunci Sukses Penjualan

Jetour meyakini insentif yang tepat sasaran akan menjadi kunci utama mencapai target ambisius. Ranggy menekankan bahwa insentif langsung ke konsumen jauh lebih efektif. Program diskon pajak atau subsidi uang muka dapat langsung memengaruhi keputusan pembelian. Padahal, segmen SUV, yang menjadi andalan Jetour, sangat sensitif terhadap harga.

Jetour saat ini mengandalkan model SUV off-road terbarunya, Jetour T2. Model tangguh ini dibanderol Rp588 juta on the road (OTR) Jabodetabek. Menariknya, Jetour memberikan program early adventure benefits. Program ini menawarkan harga khusus Rp568 juta untuk 500 konsumen pertama. Strategi harga kompetitif ini merupakan upaya mandiri Jetour mendongkrak penjualan sebelum adanya bantuan insentif resmi.

Selain itu, Jetour juga sudah memulai produksi lokal secara completely knocked down (CKD). Pabrik PT Handal Indonesia Motor (HIM) menjadi lokasi perakitan model Jetour Dashing. Lokalisasi produksi ini menunjukkan komitmen Jetour terhadap pasar Indonesia. Komitmen ini juga sejalan dengan semangat pemerintah untuk meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Mencermati Wacana Mobil Nasional dan Peluang PHEV 2026

Isu mengenai mobil nasional menjadi sorotan utama dalam diskusi internal Jetour. Jetour terus mencermati potensi dampak kebijakan ini terhadap pasar domestik. Ranggy menyatakan bahwa diskusi ini masih berjalan di tingkat pemerintah. Oleh karena itu, Jetour perlu memahami betul arah kebijakan tersebut.

Meskipun insentif BEV dihentikan, Jetour tetap agresif dalam elektrifikasi. Pabrikan ini telah mengumumkan rencana peluncuran varian plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) untuk model T2. Peluncuran T2 PHEV direncanakan terjadi pada tahun 2026. Varian PHEV ini menawarkan harga indikatif sekitar Rp838 juta. Teknologi PHEV menjadi jembatan penting. Teknologi ini memungkinkan konsumen merasakan elektrifikasi tanpa keterbatasan infrastruktur pengisian daya BEV.

Strategi Jetour menghadapi penghentian insentif EV berfokus pada diversifikasi teknologi. Mereka memanfaatkan momentum PHEV sebagai solusi yang lebih realistis untuk konsumen Indonesia saat ini. Terlebih lagi, model T2 PHEV menawarkan performa tinggi dan efisiensi bahan bakar. Jetour berharap kombinasi produk unggulan dan potensi insentif yang menyasar langsung pembeli dapat memperkuat posisi mereka di pasar SUV premium Indonesia.