2. Perintah Hapus Aplikasi oleh Pemerintah
Dalam sejarah Kebebasan berekspresi Amerika, salah satu bentuk sensor yang paling nyata adalah intervensi langsung pemerintah terhadap teknologi. Beberapa waktu lalu, pemerintahan Donald Trump, misalnya, pernah memerintahkan perusahaan seperti Apple untuk menghapus aplikasi-aplikasi yang terkait dengan pelacakan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai AS (ICE).
Baca Juga :
Aplikasi-aplikasi ini dikembangkan untuk membantu masyarakat melacak aktivitas ICE. Penghapusan aplikasi ini secara efektif menghambat kemampuan warga sipil dalam mengorganisir dan menyebarkan informasi sensitif, sebuah tindakan yang berbau kontrol informasi yang ketat.
Meskipun pemerintah berargumen ini demi keamanan, banyak kritikus melihatnya sebagai upaya membatasi akses publik terhadap informasi yang kritis, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas penegakan hukum negara.
3. Perang Melawan Disinformasi dan Batasan Algoritma
Di bawah bendera memerangi disinformasi, platform media sosial telah berinvestasi besar-besaran dalam algoritma moderasi konten. Algoritma ini seringkali terlalu agresif dan salah mengidentifikasi konten yang sah sebagai ‘berbahaya’ atau ‘palsu’.
Baca Juga :
Akibatnya, banyak konten jurnalistik, satir, atau pandangan minoritas yang secara otomatis diblokir atau di-'shadow ban' (dibatasi jangkauannya). Hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai netralitas platform tersebut. Jika algoritma mengontrol apa yang kita lihat, apakah kita benar-benar bebas mengakses informasi?
4. Kontrol Konten Terkait Pemilu dan Krisis Kesehatan
Periode pemilu dan krisis global (seperti pandemi COVID-19) menjadi pemicu utama masifnya Sensor digital di AS. Selama Pemilu AS 2020, misalnya, platform-platform besar menangguhkan atau menghapus ribuan akun dan konten yang dianggap menyebarkan informasi palsu terkait proses pemungutan suara.
Demikian pula selama pandemi, informasi yang bertentangan dengan narasi resmi pemerintah atau otoritas kesehatan seringkali dihapus secara sistematis. Meskipun niatnya adalah melindungi kesehatan publik, tindakan ini seringkali disalahartikan sebagai pengekangan perdebatan ilmiah yang sah dan membatasi transparansi.
Baca Juga :
5. Tekanan Regulasi Terhadap Platform Media Sosial
Ironisnya, saat ini AS juga menghadapi dilema ganda: pemerintah ingin memastikan platform media sosial tidak terlalu kuat, namun di sisi lain, pemerintah juga sering menekan platform tersebut untuk melakukan sensor sesuai keinginan mereka.
Berbagai gugatan dan ancaman regulasi dari kedua sayap politik (kiri dan kanan) membuat Big Tech bertindak sangat hati-hati, seringkali memilih jalur sensor yang lebih aman (walaupun restriktif) daripada mengambil risiko denda besar atau tuntutan hukum.
Sensor Digital di AS: Apakah Berbeda dengan China?
Ketika perbandingan antara AS dan China muncul, penting untuk melihat perbedaan mendasar, namun juga mengakui kesamaan efeknya terhadap Kebebasan berekspresi Amerika.
Baca Juga :
China memberlakukan sensor yang sangat ketat melalui ‘Tembok Api Besar’ (Great Firewall), di mana kontrol informasi dilakukan oleh negara secara eksplisit dan total. Di China, sensor adalah kebijakan resmi negara.