- Kesesuaian Sejarah: Riwayat kuno mengenai jatuhnya benda langit sangat konsisten dengan deskripsi meteorit.
- Warna dan Struktur: Meteorit, khususnya jenis Chondrite Carbonaceous, seringkali memiliki warna hitam pekat dan tekstur interior yang unik, mirip dengan apa yang terlihat pada Hajar Aswad.
- Bukti Impact: Beberapa ahli, seperti E. Thomsen dalam studinya tentang Hajar Aswad, mencatat bahwa ciri-ciri permukaan batu tersebut menunjukkan jejak-jejak kontak dengan atmosfer Bumi yang intens, khas batuan luar angkasa. Selain itu, ada dugaan kuat bahwa situs Kakbah mungkin merupakan lokasi kawah tumbukan purba.
Jika teori ini benar, Hajar Aswad adalah salah satu meteorit paling berharga di dunia, menghubungkan alam semesta dengan sejarah peradaban manusia.
2. Batuan Vulkanik Murni (Batuan Bumi)
Teori kedua berpendapat bahwa Hajar Aswad berasal dari Bumi dan merupakan batuan vulkanik. Wilayah Arab Saudi memang kaya akan aktivitas vulkanik purba. Batuan seperti basalt atau obsidian, yang dihasilkan dari letusan gunung berapi, memiliki warna hitam pekat dan kepadatan tinggi.
Para pendukung teori ini menyatakan bahwa perubahan warna Hajar Aswad dari putih menjadi hitam mungkin disebabkan oleh oksidasi dan paparan lingkungan selama ribuan tahun, bukan karena dosa manusia seperti yang diceritakan.
Baca Juga :
Namun, tantangan terbesar teori ini adalah menjelaskan bagaimana batuan vulkanik lokal bisa dianggap istimewa atau "jatuh dari surga," sehingga seringkali teori ini kurang populer dibandingkan hipotesis meteorit.
3. Agate atau Tektit yang Mengalami Modifikasi
Beberapa ilmuwan, seperti yang dikemukakan oleh beberapa geolog, berspekulasi bahwa Hajar Aswad adalah sejenis Agate (akik) atau Tektit yang langka. Agate dikenal karena lapisan dan warnanya yang bervariasi. Sementara Tektit adalah material seperti kaca yang terbentuk ketika meteorit menabrak Bumi, melelehkan batuan permukaan, dan melemparkannya kembali ke atmosfer.
Tektit memiliki karakteristik warna hitam legam dan tekstur yang tidak biasa. Jika Hajar Aswad adalah Tektit, ini akan menjadi kompromi yang menarik; batu itu tetap terkait dengan peristiwa tumbukan kosmik, namun materi dasarnya telah menyatu dengan material Bumi.
Baca Juga :
Hipotesis ini didukung oleh pengamatan visual bahwa Hajar Aswad menunjukkan pola aliran internal yang mirip dengan batuan jenis Agate, meskipun analisis komposisi kimia yang mendalam masih terbatas.
Bukti Fisik dan Tantangan Analisis Modern
Untuk memastikan Asal Usul Hajar Aswad, para ilmuwan memerlukan analisis kimia dan isotop yang ketat. Sayangnya, karena sifat sakralnya, tidak mungkin mengambil sampel yang merusak (destruktif) dari batu tersebut.
Oleh karena itu, penelitian modern fokus pada metode non-invasif. Salah satu upaya adalah menggunakan spektroskopi sinar-X portable untuk menganalisis unsur-unsur kimia di permukaan. Hasil awal dari studi non-invasif ini seringkali ambigu, kadang menunjukkan adanya nikel dan iridium (unsur khas meteorit), namun di waktu lain menunjukkan komposisi yang lebih dekat dengan batuan Bumi biasa.