Technonesia - Strategi pertahankan jaringan dealer kini menjadi fokus utama PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) di tengah gempuran merek-merek otomotif baru yang masuk ke pasar tanah air. Fenomena perpindahan mitra dealer dari merek lama—terutama pabrikan Jepang—ke merek-merek asal China memang sedang marak terjadi. Kondisi ini menuntut pabrikan asal Korea Selatan tersebut untuk memperkuat fondasi kerja sama dengan para mitra bisnisnya.
Fransiscus Soerjopranoto, Chief Operating Officer (COO) PT Hyundai Motors Indonesia, mengungkapkan bahwa dealer memegang peranan krusial sebagai ujung tombak perusahaan. Tanpa jaringan yang kuat, distributor dan manufaktur akan kesulitan menjangkau konsumen secara langsung. Baginya, menjaga hubungan harmonis dengan dealer bukan sekadar soal kontrak bisnis, melainkan menjaga keberlangsungan ekosistem secara menyeluruh.
Menurut pria yang akrab disapa Soerjo tersebut, posisi dealer berada di sisi downstream yang bersentuhan langsung dengan pengguna akhir. "Mungkin ada fenomena bahwa banyak dealer yang tutup dan lain sebagainya. Bahwa dealer itu menjadi sangat penting perannya. Karena dari distributor dan manufaktur pastinya di upper stream, sementara di bawahnya ada dealer dan konsumen," ujarnya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan baru-baru ini.
Baca Juga :
Pentingnya Strategi Pertahankan Jaringan Dealer di Tengah Persaingan
Langkah Hyundai dalam menjalankan strategi pertahankan jaringan dealer adalah dengan memprioritaskan kepuasan konsumen yang didukung oleh dealer sebagai mitra strategis. HMID berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap outlet yang mereka miliki dapat terus tumbuh dan berkembang, bahkan saat kondisi pasar otomotif sedang mengalami fluktuasi atau penurunan daya beli.
Soerjo menekankan bahwa dealer harus memiliki kemampuan untuk mengedukasi pasar secara efektif. Ketika angka penjualan nasional sedang lesu, dealer membutuhkan dukungan nyata agar tetap bisa beroperasi dengan sehat. Dukungan inilah yang ia istilahkan sebagai "vitamin" bagi para mitra agar mereka tidak goyah dan tetap setia di bawah naungan bendera Hyundai.
"Bagaimana dealer kita itu bisa dikembangkan supaya dapat mengedukasi market. Di masa-masa misalnya market turun, sales per outlet juga turun, bagaimana mereka juga bisa punya istilahnya ‘vitamin’ untuk tetap beroperasi sampai market naik lagi," lanjut Soerjo memberikan penjelasan mendalam mengenai kondisi industri saat ini.
Baca Juga :
Memperkuat Bisnis Purna Jual dan Service Absorption Rate
Selain fokus pada penjualan unit baru, strategi pertahankan jaringan dealer yang dijalankan Hyundai juga mencakup penguatan sektor purna jual. Sejak kembali secara masif ke Indonesia pada tahun 2020, Hyundai tercatat telah mengedarkan sekitar 110.000 hingga 120.000 unit kendaraan. Populasi kendaraan yang besar ini menjadi modal berharga bagi dealer untuk meraup pendapatan dari sektor servis dan suku cadang.
Salah satu indikator kesehatan bisnis dealer yang menjadi perhatian Hyundai adalah service absorption rate. Istilah ini merujuk pada sejauh mana biaya operasional sebuah dealer dapat tertutup hanya dari pendapatan bisnis purna jual, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada margin penjualan mobil baru. Jika angka ini tinggi, maka dealer akan memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat terhadap guncangan pasar.