Direktur Jenderal Integrasi Transportasi & Intermoda Kemenhub RI, M. Risal Wasal, menjelaskan bahwa big data tersebut akan menjadi strategi kunci dalam mengefisiensikan pergerakan barang. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap moda transportasi yang bergerak dalam Bisnis Cold Chain Indonesia dapat beroperasi secara optimal tanpa ada ruang kosong saat perjalanan kembali (backhaul).
"Kami mengupayakan agar sektor ini berjalan seefisien mungkin. Sangat disayangkan jika truk pendingin berangkat membawa muatan, namun pulang dalam kondisi kosong. Hal itu menciptakan pemborosan biaya operasional. Dengan adanya integrasi data, peluang bisnis akan terbuka lebih lebar karena pengusaha bisa saling berbagi informasi mengenai kebutuhan muatan," tutur Risal menjelaskan visi pemerintah.
Efisiensi ini diharapkan dapat menurunkan harga pangan di tingkat konsumen serta meningkatkan daya saing produk lokal di pasar internasional. Apalagi, permintaan terhadap makanan beku (frozen food) dan produk farmasi yang membutuhkan suhu terjaga terus meningkat pasca-pandemi. Kondisi pasar yang dinamis inilah yang membuat Mitsubishi Fuso optimis untuk terus berekspansi di sektor ini.
Selain aspek teknis dan data, Mitsubishi Fuso juga terus memperkuat jaringan purna jualnya di seluruh pelosok negeri. Keandalan varian truk seperti Canter dan Fighter X yang telah teruji di berbagai medan menjadi modal kuat bagi perusahaan untuk mendominasi pasar kendaraan komersial. Dukungan teknologi telematika Runner 3.0 juga disematkan untuk memantau kondisi kendaraan secara real-time, termasuk memantau suhu di dalam boks pendingin.
Dengan kolaborasi antara penyedia unit kendaraan, layanan purna jual yang terintegrasi, serta dukungan data dari pemerintah, masa depan logistik suhu rendah di tanah air tampak sangat menjanjikan. Mitsubishi Fuso berkomitmen untuk terus menjadi mitra andal bagi para pengusaha dalam memperkuat fondasi Bisnis Cold Chain Indonesia di masa depan.