Untuk mengakali kurangnya pengalaman di sirkuit tersebut, Veda menempuh metode latihan yang unik namun efektif. Ia memanfaatkan teknologi simulasi melalui gim resmi MotoGP untuk menghafal setiap sudut tikungan di COTA. Selain itu, ia juga menghabiskan waktu berjam-jam menonton rekaman video balapan tahun-tahun sebelumnya guna memahami titik pengereman dan jalur balap (racing line) yang paling ideal.
Veda mengakui bahwa COTA memiliki tingkat kesulitan tersendiri yang tidak bisa diremehkan. "Saya belajar dari gim dan menonton video balapan. Saya juga melihat rekaman kualifikasi tahun lalu, di mana banyak pembalap yang terjatuh. Saya sempat bertanya kepada rider lain, dan mereka mengonfirmasi bahwa sirkuit ini sangat banyak bagian yang tidak rata atau bumpy," jelas pembalap kebanggaan Indonesia tersebut.
Strategi matang yang disusun oleh tim teknis dan Veda Ega Pratama Moto3 2026 diharapkan mampu membuahkan hasil manis di Negeri Paman Sam. Tim mekanik kini tengah bekerja keras melakukan penyesuaian pada sistem suspensi motor agar lebih stabil saat melibas gundukan di aspal COTA. Kenyamanan pembalap di atas motor akan menjadi faktor penentu dalam menjaga ritme kecepatan selama balapan berlangsung yang menguras fisik.
Dukungan dari seluruh rakyat Indonesia diharapkan terus mengalir agar mental bertanding Veda tetap terjaga. Sebagai representasi Merah Putih di kancah global, setiap putaran roda motornya membawa harapan besar bagi kemajuan dunia olahraga nasional. Semua mata kini tertuju pada aksi heroik Veda Ega Pratama Moto3 2026 di Amerika Serikat akhir pekan ini.