Di sisi lain, Xiaomi justru muncul sebagai anomali yang menarik perhatian dunia. Perusahaan asal China ini sukses meluncurkan sedan listrik SU7 setelah bertahun-tahun fokus pada ekosistem perangkat pintar. Keberhasilan Xiaomi seringkali dikaitkan dengan rantai pasok manufaktur di China yang sudah sangat matang, sesuatu yang tidak dimiliki oleh proyek pengembangan mobil listrik Afeela secara mandiri.
Sony Honda Mobility kini mengakui bahwa tanpa dukungan teknologi dan aset manufaktur penuh dari Honda, proyek Afeela kehilangan arah. Honda yang semula menjadi tulang punggung produksi kini lebih memilih mengamankan neraca keuangan perusahaan. Tanpa adanya jalur yang jelas menuju pasar massal, melanjutkan proyek ini hanya akan menjadi beban finansial yang tidak berkelanjutan bagi kedua belah pihak.
Dampak bagi Konsumen dan Masa Depan Perusahaan
Sebagai bentuk tanggung jawab, Sony Honda Mobility memastikan akan mengembalikan seluruh dana pemesanan kepada konsumen. Kebijakan pengembalian dana penuh ini berlaku bagi pelanggan di wilayah California, Amerika Serikat, yang sebelumnya telah melakukan pre-order untuk model perdana Afeela. Padahal, menurut rencana awal, pengiriman unit seharusnya sudah bisa dilakukan pada akhir tahun ini.
Berikut adalah beberapa poin penting terkait pembatalan proyek ini:
- Pengembalian dana deposit 100% bagi konsumen yang sudah memesan.
- Pembatalan rencana peluncuran model kedua yang semula dijadwalkan pada tahun 2028.
- Fokus perusahaan beralih pada penguatan fundamental bisnis inti masing-masing.
- Penataan ulang kerja sama teknologi antara Sony dan Honda di masa depan.
Analis senior dari Quiddity Advisors, Travis Lundy, memberikan komentar yang cukup tajam mengenai fenomena ini. Sejak awal, ia menilai bahwa pengembangan mobil listrik Afeela adalah sebuah proyek yang sangat berisiko. Lundy bahkan menyebutnya sebagai proyek ambisi pribadi yang kurang selaras dengan kebutuhan pasar Honda secara global. Menurutnya, Afeela tidak pernah menjadi bagian inti dari strategi masa depan Honda yang lebih luas.
Meski proyek ini resmi berhenti, manajemen Honda menyatakan bahwa langkah ini tidak akan memberikan dampak material yang signifikan terhadap proyeksi keuangan tahun fiskal berjalan. Perusahaan justru merasa lebih aman dengan menghentikan pengeluaran pada sektor yang tidak menguntungkan. Sony juga mengeluarkan pernyataan serupa, menegaskan bahwa kondisi keuangan mereka tetap stabil meski harus merelakan proyek kebanggaan tersebut.
Kini, publik hanya bisa melihat Afeela sebagai sebuah konsep futuristik yang gagal mencapai aspal jalanan. Persaingan di industri EV yang semakin berdarah-darah memaksa perusahaan besar untuk lebih realistis dalam mengelola inovasi. Keputusan pahit ini pada akhirnya menjadi titik balik bagi Sony dan Honda dalam menata ulang visi mereka di tengah ketatnya persaingan global serta mengakhiri seluruh babak pengembangan mobil listrik Afeela.