Valve sebenarnya bukan satu-satunya raksasa industri yang menaikkan harga jual produk mereka. Kompetitor utama seperti Sony, Microsoft, dan Nintendo juga telah melakukan langkah serupa untuk mengamankan margin keuntungan mereka. Sebagai contoh, harga PlayStation 5 versi standar kini lebih mahal sekitar USD 150 hingga USD 200 dibandingkan harga rilis perdananya pada tahun 2020 lalu. Nintendo Switch 2 yang baru seumur jagung juga sudah mengalami kenaikan harga sekitar USD 50.
Baca Juga :
Meskipun demikian, persentase lonjakan harga Steam Deck OLED tercatat sebagai yang paling ekstrem di antara semua konsol game modern saat ini. Situasi ini tentu membuat persaingan di pasar PC genggam (handheld PC) semakin memanas. Konsumen kini mulai melirik alternatif lain seperti ASUS ROG Ally atau Lenovo Legion Go yang menawarkan spesifikasi serupa dengan harga yang kini terasa lebih masuk akal.
Kekhawatiran Terhadap Rilis Steam Machine
Keputusan Valve ini memicu kecemasan baru di kalangan komunitas gamer dunia, khususnya bagi mereka yang menanti proyek perangkat keras Valve berikutnya. Banyak pihak kini khawatir bahwa proyek Steam Machine yang dijadwalkan rilis akhir tahun ini juga akan terkena imbas kenaikan harga yang serupa. Tantangan logistik global diprediksi masih akan berlanjut hingga beberapa kuartal mendatang.
Jika tren harga komponen ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga Steam Machine akan melampaui harga PC gaming rakitan kelas menengah. Para analis memprediksi bahwa Valve harus bekerja ekstra keras untuk menyeimbangkan performa dan harga jual agar produk baru mereka tetap diminati pasar. Gamer kini hanya bisa berharap agar lonjakan harga Steam Deck OLED segera mereda seiring membaiknya rantai pasok global.