Technonesia - Teknologi persinyalan kereta api menjadi sorotan tajam setelah insiden memilukan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuterline di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026. Tragedi yang terjadi sekitar pukul 21.00 WIB ini tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga tujuh korban jiwa, tetapi juga memicu tanda tanya besar mengenai keandalan sistem proteksi perjalanan kereta api di Indonesia. Jalur padat BekasiβCibitung sempat lumpuh total, memaksa ribuan penumpang mencari moda transportasi alternatif di tengah kepanikan pasca-tabrakan.
Kecelakaan bermula saat rangkaian KRL terhenti di emplasemen stasiun akibat gangguan teknis yang terjadi sebelumnya. Namun, secara tak terduga, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang menghantam rangkaian KRL tersebut dengan keras. Hingga saat ini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih bekerja keras mengumpulkan data di lapangan. Investigasi mendalam ini bertujuan untuk memastikan apakah teknologi persinyalan kereta api berfungsi sebagaimana mestinya atau terdapat faktor kelalaian manusia (human error) serta kegagalan teknis pada sistem pengereman.
Misteri Kegagalan Teknologi Persinyalan Kereta Api di Jalur Utama
Pakar transportasi publik dari bidang perkeretaapian, Joni Martinus, menyatakan keheranannya atas insiden ini. Menurutnya, sistem yang ada saat ini dirancang dengan protokol keamanan berlapis yang sangat ketat. Dalam kondisi normal, keberadaan satu kereta di dalam petak jalan seharusnya secara otomatis menutup akses bagi kereta lain di belakangnya. Joni menekankan bahwa teknologi persinyalan kereta api dengan prinsip absolute block system adalah fondasi utama yang tidak boleh dilanggar dalam kondisi apa pun.
"Fakta bahwa KA Argo Bromo Anggrek dapat masuk ke blok yang sama hingga menabrak KRL di depannya adalah anomali besar yang harus didalami oleh KNKT," tegas Joni dalam keterangan tertulisnya. Ia menambahkan bahwa ada beberapa kemungkinan penyebab yang kini tengah diuji, mulai dari fenomena Signal Passed At Danger (SPAD)βdi mana masinis melewati sinyal merahβhingga potensi kegagalan pada perangkat interlocking yang mengatur logika perpindahan jalur dan pemberian aspek sinyal.
Bagaimana Sistem Persinyalan Menjamin Keamanan?
Dalam operasional harian, sistem persinyalan berfungsi sebagai "polisi lalu lintas" yang mengatur pergerakan kereta secara otomatis dan manual. Mekanisme ini membagi rel menjadi beberapa segmen yang disebut blok. Pada sistem fixed block signaling yang umum digunakan di Indonesia, setiap blok hanya diizinkan untuk ditempati oleh satu rangkaian kereta. Sensor pada rel akan mendeteksi keberadaan roda kereta, yang kemudian mengirimkan sinyal elektronik ke pusat kendali dan mengubah lampu sinyal di blok sebelumnya menjadi merah.
Teknologi ini juga didukung oleh perangkat interlocking, sebuah sistem logika yang memastikan bahwa izin jalan tidak akan diberikan jika rute di depan belum sepenuhnya aman. Jika teknologi persinyalan kereta api ini bekerja optimal, risiko tabrakan belakang (rear-end collision) secara teknis mendekati nol persen. Namun, efektivitas sistem ini tetap bergantung pada pemeliharaan rutin perangkat di lapangan, mulai dari motor wesel, sensor pendeteksi (track circuit), hingga lampu sinyal itu sendiri.