- Proses instalasi berjalan secara otomatis tanpa persetujuan manual pengguna.
- Pengguna hanya diberikan opsi untuk mengatur waktu restart atau menunda instalasi dalam jangka waktu tertentu.
- Perangkat yang dikelola oleh admin IT perusahaan besar mendapatkan pengecualian dari skema otomatis ini.
- Kriteria kesiapan perangkat keras yang digunakan oleh AI tidak dipublikasikan secara transparan oleh Microsoft.
Baca Juga :
Masalahnya, riwayat pembaruan rutin bulanan Microsoft belakangan ini seringkali membawa "kado" berupa bug yang menjengkelkan. Mulai dari masalah koneksi Wi-Fi yang terputus, penurunan performa gaming, hingga kegagalan total saat proses booting. Menyerahkan kendali penuh kepada sistem machine learning untuk melakukan update otomatis Windows 11 terbaru tentu membuat banyak pengguna merasa khawatir akan nasib data mereka.
Cara Menghindari Update Otomatis yang Berisiko
Bagi para pengguna tingkat lanjut atau power users, membiarkan sistem melakukan perubahan besar secara mandiri adalah hal yang sebisa mungkin dihindari. Stabilitas komputer untuk bekerja jauh lebih penting daripada sekadar mendapatkan fitur kosmetik terbaru. Oleh karena itu, banyak yang mulai mencari cara untuk memblokir mekanisme pembaruan paksa ini.
Salah satu opsi yang paling populer adalah menggunakan perangkat lunak pihak ketiga atau melakukan modifikasi melalui Group Policy Editor (GPEdit). Dengan mematikan layanan Windows Update secara sementara, pengguna memiliki waktu lebih banyak untuk memantau laporan dari pengguna lain mengenai stabilitas versi 25H2 sebelum benar-benar memasangnya.
Langkah memblokir update otomatis Windows 11 terbaru dianggap jauh lebih aman daripada harus berurusan dengan komputer yang mendadak rusak akibat kesalahan identifikasi oleh sistem AI. Hingga saat ini, Microsoft belum memberikan rincian lebih lanjut mengenai bagaimana mereka akan menangani kompensasi atau bantuan teknis jika algoritma mereka salah memprediksi kesiapan sebuah perangkat keras.
Ke depannya, integritas sistem operasi Windows akan sangat bergantung pada seberapa cerdas teknologi machine learning ini bekerja. Jika berhasil, Microsoft akan dipuji karena mampu melakukan transisi massal dengan mulus. Namun, jika gagal, julukan "Microslop" mungkin akan semakin melekat kuat dan mendorong lebih banyak pengguna untuk melirik sistem operasi alternatif. Kita hanya bisa berharap agar implementasi update otomatis Windows 11 terbaru ini tidak menjadi bencana digital baru bagi jutaan orang.