Angka tersebut akan menempatkan Wayne sebagai orang terkaya di planet bumi, melampaui kekayaan para taipan teknologi lainnya. Namun, nasib kurang beruntung Wayne tidak berhenti di masalah saham saja. Pada era 1990-an, ia menjual dokumen asli perjanjian kemitraan tahun 1976 yang ia simpan hanya seharga 500 dolar AS. Ironisnya, dokumen bersejarah itu kemudian terjual di balai lelang Sothebyβs pada tahun 2011 dengan harga mencapai 1,6 juta dolar AS.
Bahkan pada awal tahun 2026 ini, dokumen yang sama dikabarkan kembali berpindah tangan dengan nilai yang terus meroket hingga 2,5 juta dolar AS atau sekitar Rp40 miliar. Hal ini menambah daftar panjang nilai ekonomi yang "hilang" dari genggaman pria yang kini menikmati masa tuanya dengan sederhana tersebut.
Meskipun sering mendapat label sebagai orang paling tidak beruntung di dunia bisnis, Ronald Wayne secara konsisten menyatakan bahwa ia tidak pernah menyesali keputusannya. Baginya, ketenangan pikiran jauh lebih berharga daripada tumpukan harta yang mungkin didapat dengan penuh tekanan. Ronald Wayne, sang pendiri ketiga Apple, lebih memilih hidup dalam bayang-bayang sejarah daripada harus memikul beban risiko yang tidak sanggup ia tanggung di masa muda perusahaan.
Kisah ini menjadi pengingat bagi banyak pengusaha bahwa visi dan keberanian mengambil risiko sering kali menjadi pembeda antara kesuksesan raksasa dan kenyamanan pribadi. Itulah kisah ironis namun inspiratif dari pendiri ketiga Apple yang memilih jalannya sendiri demi kedamaian hidup yang ia cari.