Tanpa arah yang jelas, Apple sulit untuk menentukan ekosistem aplikasi mana yang harus diprioritaskan. Pengguna tentu mengharapkan pengalaman multitasking yang jauh lebih baik pada layar lipat 20 inci dibandingkan iPad Pro standar. Jika Apple tidak mampu memberikan solusi perangkat lunak yang revolusioner, maka layar besar tersebut hanya akan menjadi gimik teknologi yang mahal.
Risiko Pasar dan Dominasi iPad Pro
Faktor lain yang membuat Proyek iPad Lipat Apple berada di ujung tanduk adalah rendahnya minat pasar terhadap tablet lipat berukuran raksasa. Hingga saat ini, basis pengguna untuk perangkat layar lipat berukuran sangat besar belum terbentuk secara kuat. Risiko bisnis menjadi semakin besar ketika biaya produksi yang tinggi harus berhadapan dengan permintaan pasar yang masih samar.
Saat ini, posisi Apple di pasar tablet global sebenarnya masih sangat kokoh. Penjualan iPad Pro dengan chip M4 dan iPad Air terbaru tetap stabil dan mendominasi pasar premium. Dengan performa iPad Pro yang sudah sangat kencang, Apple merasa tidak memiliki tekanan mendesak untuk memaksakan produk baru yang belum benar-benar matang secara teknologi maupun konsep.
- Kesulitan produksi massal panel OLED tanpa lipatan.
- Estimasi harga jual yang jauh melampaui iPad Pro terkini.
- Lemahnya permintaan pasar untuk kategori tablet hybrid lipat.
- Ketidakjelasan sistem operasi antara iPadOS atau macOS.
Berbeda dengan nasib iPad lipat, Apple justru terlihat lebih serius mengembangkan iPhone lipat. Perangkat ponsel lipat dinilai memiliki peluang pasar yang jauh lebih jelas dan masuk akal bagi konsumen. Pengguna iPhone saat ini memang membutuhkan layar yang lebih luas untuk produktivitas dan hiburan, namun tetap ingin perangkat yang ringkas saat dibawa di dalam saku.
Menariknya, sempat beredar kabar bahwa Proyek iPad Lipat Apple ini merupakan proyek prioritas yang akan diperkenalkan oleh John Ternus, sosok yang digadang-gadang sebagai calon kuat CEO Apple di masa depan. Namun, pada akhirnya logika bisnis tetap menjadi panglima. Keputusan final tetap bergantung pada kelayakan produk di mata konsumen dan efisiensi biaya produksi.
Bagi para pengamat teknologi, penghentian sementara atau pembatalan proyek ini bukanlah hal yang mengejutkan. Apple seringkali membatalkan proyek ambisius jika dirasa tidak memenuhi standar mereka, seperti yang terjadi pada proyek Apple Car (Project Titan). Langkah ini menunjukkan bahwa Apple lebih memilih untuk tidak merilis produk sama sekali daripada merilis produk yang setengah matang dan mengecewakan pengguna.
Meskipun saat ini terlihat terhenti, peluang kebangkitan inovasi ini masih tetap terbuka di masa depan. Pengembangan sistem operasi yang lebih fleksibel serta kemajuan teknologi material layar bisa menjadi fondasi untuk menghidupkan kembali perangkat ini. Namun untuk saat ini, para penggemar harus menerima kenyataan bahwa Proyek iPad Lipat Apple masih sebatas eksperimen ambisius di dalam laboratorium Cupertino yang belum siap menghadapi realitas pasar.