Kondisi ini diperkirakan akan mencapai titik kritis dalam waktu dekat akibat perubahan cuaca ekstrem yang terus berlanjut. Jika El Niño kuat kembali melanda pada paruh kedua tahun 2026, maka skenario terburuk di mana salju abadi Papua mencair secara keseluruhan bisa terjadi antara tahun 2026 hingga 2027.
Ancaman Kehilangan Identitas Budaya Masyarakat Adat
Dampak dari hilangnya lapisan es ini tidak hanya terbatas pada kerusakan lingkungan fisik semata. Bagi masyarakat adat Papua yang tinggal di sekitar kaki gunung, puncak berselimut salju tersebut memiliki nilai spiritual dan kesakralan yang sangat mendalam. Mereka menganggap gletser sebagai tempat suci bersemayamnya roh para leluhur serta lambang keseimbangan alam.
Baca Juga :
Hilangnya lapisan es ini secara langsung mengikis warisan budaya takbenda yang telah diwariskan secara turun-temurun. Ketika salju abadi Papua mencair, masyarakat lokal merasa kehilangan sebagian besar dari identitas spiritual mereka. Bentang alam berselimut es tersebut bukan sekadar tumpukan es dingin biasa, melainkan bagian integral dari sejarah hidup dan sistem kepercayaan adat.
Meskipun dunia internasional berupaya menekan emisi gas rumah kaca saat ini juga, sistem iklim bumi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk pulih sepenuhnya. Suhu global diprediksi akan tetap meningkat dalam beberapa tahun ke depan, sehingga mempersempit peluang penyelamatan sisa-sisa es tropis yang masih bertahan.
Pada akhirnya, fenomena salju abadi Papua mencair menjadi alarm keras bagi seluruh umat manusia mengenai dampak nyata perubahan iklim global yang kian tidak terkendali. Kehilangan gletser tropis ini akan menjadi catatan sejarah kelam di mana Indonesia kehilangan salah satu keajaiban alam terbaiknya untuk selamanya. Langkah mitigasi yang agresif kini menjadi satu-satunya harapan tersisa untuk melindungi ekosistem rentan lainnya di seluruh penjuru dunia.